TEOLOGI BENCANA: Sebuah Pergeseran Paradigama Teologi Teosentris ke Teologi Antroposentris

  1. Pendahuluan

Menurut karl Rahner Herbert Vorgrimler dalam bukunya Theological Dictionary, kata teologi berasal dari bahasa yunani yang berarti cerita, terutama dari dongeng atau filsafat tentang dewa-dewa.[1] Sedangkan dalam pengetian lain juga dijelasakan, theologi terdiri dari ”Theos” yang berarti Tuhan dan “Logos” yang berarti Ilmu  (science, study, discoverse). Jadi theologi berarti ilmu tentang Tuhan atau ilmu ketuhanan. Dari sinilah istilah teologi sering dikaitkan dengan agama, akan tetapi pandangan inin tidak selamanya tepat, karana seorang teolog dapat menjalankan penyeledikannya sesuai dengan kebebasan tanpa ada hubungannya dengan agama.[2] Ringkasnya, teologi adalah ilmu yang membahas tentang hubungan manusia dengan Tuhan, baik berdasar kebenaran wahyu atau penyelidikan akal murni.

  1. Seputar Wacana Tentang Teologi

Pada mulanya istilah teologi muncul di kalangan orang kristen sebagai suatu usaha mereka untuk mendapat wahyu verbal Tuhan.[3] Kemudian disiplin ilmu ini berdiri sendiri, sekalipun sebagai sebuah disiplin ilmu teologi (dalam kristen) memeliki pengertian yang beragam, namun pada dasarnya ia bisa dipahami sebagai uraian rasional tentang iman kristen. Teologi dalam hal ini terbagi menjadi beberapa subdisiplin ilmu, studi kitab suci, sejarah gereja, etika teologis, teologis praktis dan teologis pastoral. Berdasar uraian singkat diatas, dapat ditegaskan bahwa (dalam Islam) sekalipun istilah teologis diadopsi dari kristen.[4] Namun yang pasti ruang lingkupnya jelas berbeda dengan studi skolastik kristen, dalam Islam teologi sering dipadankan dengan “Ilmu Kalam”. Penggunaan istilah tersebut setidaknya didasarkan pada asumsi bahwa keduanya mengarahkan pembahasan pada segi-segi mengenai ketuhanan dan derivasinya.[5]

Dalam tradisi keagamaan, teologi dipandang sebagai unsur penting yang mendasari sebuah agama, tanpa teologi yang menjadi dasar keimanan seseorang, maka tidka ada yang namanya agama. Oleh karena itu, bisa dipahami bahwa jika teologi menjadi bidang kajian yang telah mentradisi dalam semua agama, bahkan sejarah agama pada dasarnya adalah teologi.[6] Teologi dalam perspektif Nurcholis Majid dipandang sebagai bidang strategis sebagai upaya pembaharuan pemahaman dan pembinaan umat Islam, dikatakan strategis karena teologi merupakan aspek penting yang dapat berfungsi sebagai refleksi kritis tindakan manusia dalam melihat realitas sosial yang dihadapi.[7]

Ketika membicarakan masalah relasi Tuhan dan manusia, maka maenstrem pemikiran teologi selalu bersifat teosentris (Tuhan menjadi pusat segala kekuatan/kekuasaan dan manusia harus tunduk dan patuh dihadapan Tuhan). Cara pandang seperti ini, menganggap bahwa agama adalah cara orang untuk bertuhan, suatu teologi yang mengajak manusia untuk meninggalkan segala-galanya demi Tuhan. Dengan demikian, maka Tuhan tidak hanya menciptakan manusia, tetapi juga mengintervensi, mendatangi dan bersemayam dalam kehidupan duniawi. Karenanya manusia adalah kehidupan pasif, linier, status quo, monoton  yang semua itu merupakan wujud absolusitas skenario.[8]

Teologi teosentris seperti ini, sekalipun berdampak positif menurut Nurcholis Majid, namun sesungguhnya mempunyai efek samping yang sangat berbahaya, yaitu pembelengguan pribadi dan pemerosotan harkat martabat kemanusiaan.[9] Ditengah banyak persolan yang terjadi, banyak manusia yang bertanya apa relevansi teologi untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial, paradigma telogi teosentris hanya ”diam”. Bahkan teologi ini hanya dijadikan alat untuk melakukan penindasan kepada manusia. Oleh karenanya diperlukan subuah sadar usaha untuk memanusiakan teologi dan menteologikan manusia.[10] Sehingga pergeseran paradigma dalam teologi menjadi suatu keniscayaan.[11] Pergeseran paradigma yang dimaksud adalah paradigma antroposentris, suatu teologi yang menempatkan manusia sebagai pusat orientasinya (teologi sebagai inti memanusiakan dan menyejahterakan). Namun teologi antroposentris disini jelas bukan teologi antroposentris-sekuleris, dimana manusia sebagai raja yang sah untuk mengeksploitasi alam berdasar untung-rugi bagi kepentingannya. Melainkan teologi antroposenris-dialogis yang diwujudkan dalam keseharian, seseorang yang berketuhanan dengan sendirinya akan berkeprimanusiaan. Dengan demikian teolgi antroposentris tidak bermaksud untuk mengubah Tauhid, tetapi suatu upaya revitalisasi dan rektualisasi pemahaman keagamaan.

  1. Teologi Bencana; ke Arah Pemahaman Komprehensif
  2. Ayat-ayat Tentang Bencana

Q.S. Al Hadid yang artinya:

“tiada suatu bencanapun yang menimpa dimuka bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab Allah (lauh Al Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Dan sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah”

Q.S. Ar Rum: 41

“telah tampak kerusakan didarat dan dilaut disebabkan karena perbuatan tangan manusia supaya Allah meraskan kepada mereka sebagai akbat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar.

Q.S. As Syura: 30

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).

Q.S. Al Baqarah: 155

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan padamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira pada orang-orang yang sabar”

  1. Teologi Bencana; ke Arah Pemikiran Elegan

Berdasarkan Ayat-ayat diatas digambarkan secara umum bahwa, bencana yang terjadi tergolng dalam tiga kategori, yaitu Taqdir (Al Hadid:22), Azab (Ar rum: 41 dan As Syura: 30), dan Cobaan (Al Baqarah: 155). Jika dianalisis lebih dalam mengenai bencana, rumusan teologis yang mengasumsikan bencana adalah kemurkaan Tuhan (azab), maka disitu secara eksplisit sudah terkandung nada yang menyalahkan mereka yang menjadi korban. Demikian pula, rumusan teologis yang mengasumsikan bahwa bencana merupakan ujian atau takdir Tuhan, maka secara implisit kita sedang menyalahkan Tuhan. Kedua kecendrungan ini tentu bukanlah rumusan teologis yang dianggap elegan dan ideal tentang bencana alam. Oleh karenanya diperlukan sebuah rumusan teolgi yang tidak gegabah agar tidak menyalahkan mereka yang menjadi korban dan terhadap Tuhan sendiri.

Bertolka dari kenyataan diatas, maka maka akan menghadirkan konsep-konsep kunci agama yaitu Qadla dan takdir Tuhan. Secara bahasa Qadla berarti menentukan, memutuskan, memerintahkan dan memfasilitasi. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan Qadla merupakan hukum alam atau dalam teologi Islam dikenal dengan Sunnatullah. Dengan kata lain, hukum alam inilah yang menjadi “media” Tuhan untuk berkehendak di alam semesta, yang pada proses selanjutnya setelah seluruh rangkaian tercipta, maka hukum-hukum tersebut melahirkan ”takdir”. Akan tetapi, takdir tersebut bisa berupa bencana di satu sisi, dan berupa sebuah kenikmatan disisi lain. Hal ini sangat bergantung pada peran manusia untuk memainkan dan memilih dari sekian banyak hukum Tuhan tersebut. Oleh karena itu bencana bukanlah suatu hal yang harus diterima apa adanya, melainkan peran manusia sangat memungkinkan untuk mengganti antara takdir Tuhan dengan takdir yang lain, tergantugn seberapa besar usaha manusia.

Kombinasi antara pertimbangan rasional dengan teologis (Antroposentris dan Teosentris) inilah yang akan melahirkan sikap introspeksi terhadap apa yang terjadi sekaligus untuk mencari jalan keluar atas terjadinya masalah. Inilah yang harus menjadi pijakan dalam memahami peristiwa demi peristiwa yang melahrkan suka atau duka. Maka teologi sekarang harus direkonstruksi dalam konteks yang lebih komprehensip, sehingga dapat menjawab problem umat manusia.

  1. Penutup

Bencana yang terjadi sering menimbulkan spekulasi teologis dimasyarakat. Pada akhirnya terjebak dalam dua perangkap teologis yang mengharukan, entah menkambingkhitamkan korban bencana sendiri atau meyalahkan Tuhan yang dianggap sebagai pihak yang tak kenal ampun dan berbelas kasihan mengajar hambanya. Kiranya untuk keluar dari permasalahan ini yaitu dengan melakukan pergeseran paradigma teologi Teosentris ke teologi Antroposentris. Dalam pandangan seprti ini, maka bencana bukanlah suatu hal yang given, dimana harus diterima apa adanya, melainkan peran manusia sangat memungkinkan untuk mengganti antara takdiryang satu dengan takdir yang lain dari Tuhan.

 

Daftar Pustaka

Muhadi Zainuddin, Pemikiran Teologi al Zamakhsyari, Tesis Program Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga yogyakarta, 1975.

Ahmad Hanafi, Pengantar Teologi Islam, Jakarta: pustaka al Husna, 1992.

Budy Munawar Rahmat, Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah, jakarta: paramadina, 1994.

Nurcholis Majid, Disiplin Keilmuan Tradisional Islam; Ilmu Kalam (Sebuah Tinjauan Singkat Kritis kesejarahan), Jakarta: paramadina, 2000.

Rumadi, Masyarakat Post-Teologi Wajah Baru Agama dan Demokrasi Indonesia, Jakarta: mustika bahraid, 2000.

Airlangga Pribadi dan M. Haryono, Post Islam Liberalisasi, Membangun Demuman Mentradisikan Eksperimentasi, Jakarta: Pasirindo Bangamas Nagari, 2002.

Nurcholis Majid, Iman dan Emansipasi Harkat dan Martabat Kemanusiaan, dalam Islam Doktrin dan Peradaban, Jakarta: paramadina, 2000.

Amin Abdullah, Filasafat Kalam di Era Postmodernisme, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995.


[1]  Muhadi Zainuddin, Pemikiran Teologi al Zamakhsyari, Tesis Program Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga yogyakarta, 1975, hlm. 35.

[2]  Ahmad Hanafi, Pengantar Teologi Islam, (Jakarta: pustaka al Husna, 1992), hlm. 11.

[3]  Op.cit, hlm 35.

[4] Budy Munawar Rahmat, Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah, (jakarta: paramadina, 1994), hlm. 52.

[5] Nurcholis Majid, Disiplin Keilmuan Tradisional Islam; Ilmu Kalam (Sebuah Tinjauan Singkat Kritis kesejarahan), (Jakarta: paramadina, 2000) hlm. 201.

[6] Rumadi, Masyarakat Post-Teologi Wajah Baru Agama dan Demokrasi Indonesia, (Jakarta: mustika bahraid, 2000), hlm. 23

[7] Ibid

[8] Airlangga Pribadi dan M. Haryono, Post Islam Liberalisasi, Membangun Demuman Mentradisikan Eksperimentasi, (Jakarta: Pasirindo Bangamas Nagari, 2002), hlm. 95.

[9] Nurcholis Majid, Iman dan Emansipasi Harkat dan Martabat Kemanusiaan, dalam Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: paramadina, 2000), hlm. 99-100.

[10] Rumadi, Masyarakat Post-Teologi Wajah Baru Agama dan Demokrasi Indonesia, (Jakarta: mustika bahraid, 2000), hlm. 24.

[11] Amin Abdullah, Filasafat Kalam di Era Postmodernisme, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995), hlm. 42.

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: