PERANAN DA’I DALAM PEMBANGUNAN MANUSIA

PERANAN DA’I DALAM PEMBANGUNAN MANUSIA
Dakwah, pada hakekatnya adalah ‘’upaya sadar’’ untuk mempengaruhi dan mengajak orang lain, atau kelompok tertentu , agar mau mengikuti ‘’jalan kebenaran’’ (sawaas-sabil). Dalam konteks Dakwah Islamiyah, yang di maksud dengan jalan kebenaran itu adalah ‘’Agama Islam’’.
Fungsi dakwah dan peranannya, tidak lain adalah memberikan jalan keluar yang benar dan tepat kepada umat manusia dari berbagai macam situasi yang serba kelam (darkness) menuju situasi yang terang (brightness) ‘’Litukh-rija an-nass mina azhulumat ila an-nur’’.
Watak dasar dakwah adalah mengubah (bersifat transformatif), ke arah yang lebih baik. Namun di lain sisi dakwah juga mempertahankan prinsip-prinsip ajaran atau nilai-nilai fundamental, yang di yakini kebenarannya, yang menjadi jati diri. Oleh karena itu dakwah juga bersikap mempertahankan dan melestarikan ajaran (bersifat konservatif).
Secara marko, eksistensi dakwah Islamiyah senantiasa bersentuhan dan bergelut dengan realitas yang mengitarinya. Dalam perspektif historis, pergumulan dakwah Islamiyah dengan realitas sosio-kultural menjumpai dua kemungkinan:
Pertama: Dakwah Islamiyah mampu memberikan out put atau hasil serta pengaruh terhadap lingkungan, dalam artian memberi dasar pandangan (wijhatun nazhor), dasar filosofi, arah, dorongan dan pedoman perubahan masyarakat , sampai berbentuk realitas yang baru.
Kedua: Dakwah Islamiyah ‘’di pengaruhi’’ oleh perubahan masyarakat, dalam artian eksistensi corak, pendekatan dan arahnya. Ini berarti bahwa kualitas dakwah selalu dipengaruhi oleh sistem sosio-kultural yang ada.
Realitas Sosial Yang Di Hadapi Dakwah Kita
Penduduk Indonesia berdasarkan SP-1990 berjumlah sekitar 178,63 juta jiwa, dari jumlah itu yang beragama Islam 87,7%, Kristen 5,8%, Katholik 3,2%, Hindu 1,9%, Budha 1,1% dan di luar pemeluk agama-agama tersebut sebesar 0,3%. Sementara pada SP-2000 di perkirakan jumlah penduduk mencapai 203,5 juta jiwa; yang beragama Islam 87,9%, Kristen 5,7%, Katholik 3,3%, Hindu 1,85, Budha 1,1% dan pemeluk agama lain 0,2%. Dari data di atas penduduk yang beragama Islam ada kenaikan sebesar 0,2%; sedangkan pemeluk agama Katholik, Kristen,Hindu dan pemeluk agama lainnya masing-masing turun 0,1%.
Hampir di semua propinsi penduduk agama Islam merupakan mayoritas, malah umumnya diatas 90%. Menurut SP-2000 penduduk Iriran Jaya yang beragama Kristen sebesar 63,78% dari jumlah penduduknya, dan di Bali pemeluk agama Hindu sebesar 88,05%. Pemeluk agama Budha yang terbanyak berada di Kalimantan Barat yakni sebesar 8,95% dari penduduknya.
Penyebaran penduduk yang beragama Islam dalam SP-2000 sebanyak 57,9% berada di pedesaan, sedangkan 42,1% berada di perkotaan, sebaliknya yang beragama Budha, sebesar 86,1% pemeluknya berada di perkotaan, sedangkan yang berada di pedesaan hanya 16,9%.
Penduduk agama Islam yang berumur 5 tahun ke atas pada SP-1990 sebanyak 138 juta jiwa, sementara pada SP-2000 sebanyak 30,4% dari jumlah penduduk yang mencapai 203,5 juta jiwa. Pada SP-1990 keadaan pendidikannya sebagai berikut:
a. Belum/tidak pernah sekolah sebanyak 25,7 juta jiwa atau setara dengan 18,7%.
b. Masih sekolah formal sebanyak 36,9 juta jiwa atau setara dengan 27,7%.
c. Sudah tidak sekolah lagi sebanyak 75,4 juta jiwa atau setara dengan 54,6%.
Dalam SP-2000 agak kesulitan menampakkan dalam bentuk angka karena adanya dua propinsi yaitu propinsi Nangroe Aceh Darussalam dan propinsi Maluku tidak tersedia data.
Sedangkan pendidikan tertinggi yang ditamatkan oleh penduduk beragama Islam pada usia 10 tahun ke atas menurut SP-1990 prosentasenya sebgai berikut:
a. Belum/tidak pernah sekolah sebanyak 16,3%
b. Belum tamat SD/Madrasah sebanyak 32,2%
c. Tamat SD/Madrasah sebanyak 31,0%
d. Tamat SLTP sebanyak 10,3%
e. Tamat SLTA sebanyak 8,9%
f. Tamat D1/D2 sebanyak 0,2%
g. Tamat perguruan tinggi sebanyak 1,1%
Dengan demikian, kita sadari bahwa kebododhan masih merupakan faktor kelemahan bagi umat Islam.
Dari data-data yang disajikan dari Biro Pusat Statistik (BPS) antara tahuan 1992-1994 menunjukkan bahwa satu dari setiap tujuh orang Indonesia adalah miskin sekali, 3,2% angkatan kerja masih menganggur. Sekitar 36,6% dari jumlah penduduk yang bekerja, kerjanya kurang dari 35 jam per minggu (bahkan dalam BPS-2000 angka ini masih tetap). Lebih dari 77% hanya berpendidikan sekolah dasar. Lebih dari 97% unit usaha pada tahun 1992 beromset kurang dari Rp 50 juta partahun (usaha kecil). Dalam keluarga petani sekitar 51,6% rumah tangga petani adalah masuk dalam kategori petani gurem yang mengolah lahan pertanian kurang dari setengah hektar.
Dari data informasi ini, kita ketahui bahwa kemiskinan masih merupakan faktor kelemahan umat Islam. Dan kondisi memprihatinkan ini masih ditambah lagi dengan kemerosostan moral atau akhlak, kekurangan gizi, jaminan kesehatan, dan juga kemiskinan informasi disamping ketidakmampuan untuk bersaing. Keadaan dan realitas itu, merupakan az zulumat yang menjadi tantangan dakwah Islamiyah kita.
Peranan Dai dalam Pembangunan Manusia Seutuhnya
Manusia yang seutuhnya itu bagaimana? Masalah ini memanmg masih memerlukan pendiskusian yang lebih mendalam, tetapi tidak mungkin dipaparkan sekarang ini. Tapi ada baiknya dipakai bebrapa parameter:
a. Dalam GBHN 1993 dan GBHN tahun berikutnya diisyarakat manusia yang utuh itu dalah : “Yang beriman dan bertaqwa kepada Tuahn Yang Maha Esa, berbudi pekerti yang luhur, berkepribadian, cinta tanah air, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja, bertanggung jawab dan produktif serta sehat jasmani dan rohani”.
b. Dalm konteks Islam, para Rasul dan Nabi adalah figur manusia seutuhnya. Mereka itu adalah orang yang mempunyai : basthotan fil ‘ilmi wal jismi, qolbun salim, qowiyyun amin, hafizhum ‘alim, shiddiq, amanah, tabligh, fathonah, shobur, uswatun hasanah, ‘abid dan lain-lain. Mereka dalam melakukan dakwah bukan hanya memebrikan mau’izhah hasanah tetapi juga memberikan uswah hasanah.
Seperti dikemukakan di atas, bahwa watak dasar dakwah adalah mengubah masyarakat menjadi lebih baik dari sebelmnya, mencari jalan keluar dari zhulumat menjadi kondisi yang nur.
Satu tahun sebelum wafat, Nabi Muhammad saw berbicara dihadapan sahabatnya:
الستم ضلالا فهدا كم الله بى؟
وكنتم متتفرقين فأ لفكم الله بى؟
وكنتم عا لة فأ غنكم الله بى؟
“Tidakkah kalian dulunya merupakan masyarakat yang sesat hidupnya, kemudian Allah memberikan petunjuk kepada kalian dengan kehadiranku?
Tidakkah kalian dulunya merupakan masyrakat yang cerai-berai penuh dengan konflik, kemudian Allah menjadikan masyarakat yang rukun bersatu dengan kehadiranku?
Tidakkah kalian dulunya merupakan masyarkat yang hidup dalam kenislinan, kemudian Allah menjadikan kalian msyarakat yang makmur berkecukupan dengan kehadiranku? (HR Bukhori)
Pertanyaan tersebut dijawab dengan jujur dan spontan oleh para sahabat “betul ya Rasulullah”.
Pertanyaan-pertanyaan Nabi Muhammad saw tersebut, semacam evaluasi dakwah, yang selama 23 tahun dilakukan, baik itu yang berkaitan dengan masalah keagamaan, seperti dalam ungkapan beliau (tidakkah kalian dulunya sesat, sekarang mendapakan petunjuk dari Allah), juga msalah sosial, beliau mengungkapkan (dan dulunya kalian terpecah belah, sengketa terus, sekarang menjadi rukun) dan masalah ekonomi, seperti tercuat dalam ungkapan beliau (kalian dulunya melarat, sekarang telah menjadi kaya). Ternyata tugas dakwah Nabi bukan hanya mengenai masalah keagamaan saja, tetapi juga kemasyarakatan dan kesejahteraan hidup. Peran ini harus kita warisi.
Ada enam zhulumat yang sekarang banyak dihadapai oleh umat Islam dimana-mana dan menjadi garapan para dai, yaitu lemahnya iman (dha’ful iman), lemahnya ilmu (dha’ful ‘ilmi), lemahnya akhlak (dha’ful akhlaq), lemahnya ekonomi umat (dha’ful iqtishad), lemahnya semangat juang (dha’ful jihad), dan lemahnya kesetiakawanan sesama Islam (dha’ful tamasuk al ijtima’i).
Muhammad Tholhah Hasan, Islam dan Masalah Sumber Daya Manusia, Jakarta: Lantabora Press, 2003, Hal. 217-222

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: