Pengaruh Globalisasi Terhadap Nilai-Nilai Nasionalisme

  • Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah.
  • Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa- bangsa di seluruh dunia. (Menurut Edison A. Jamli dkk.Kewarganegaraan.2005)

Menurut pendapat Krisna (Pengaruh Globalisasi Terhadap Pluralisme Kebudayaan Manusia di Negara Berkembang.internet.public jurnal.september 2005). Sebagai proses, globalisasi berlangsung melalui dua dimensi dalam interaksi antar bangsa, yaitu dimensi ruang dan waktu. Ruang makin dipersempit dan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia. Globalisasi berlangsung di semua bidang kehidupan seperti bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan dan lain- lain. Teknologi informasi dan komunikasi adalah faktor pendukung utama dalam globalisasi. Dewasa ini, perkembangan teknologi begitu cepat sehingga segala informasi dengan berbagai bentuk dan kepentingan dapat tersebar  luas ke seluruh dunia.Oleh karena itu globalisasi tidak dapat kita hindari kehadirannya.

Kehadiran globalisasi tentunya membawa pengaruh bagi kehidupan suatu negara termasuk Indonesia. Pengaruh tersebut meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. Pengaruh globalisasi di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik, ekonomi, ideologi, sosial budaya dan lain- lain akan mempengaruhi nilai- nilai nasionalisme terhadap bangsa.

  • Pengaruh positif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme
    1. Dilihat dari globalisasi politik, pemerintahan dijalankan secara terbuka dan demokratis. Karena pemerintahan adalah bagian dari suatu negara, jika pemerintahan djalankan secara jujur, bersih dan dinamis tentunya akan mendapat tanggapan positif dari rakyat. Tanggapan positif tersebut berupa rasa nasionalisme terhadap negara menjadi meningkat.
    2. Dari aspek globalisasi ekonomi, terbukanya pasar internasional, meningkatkan kesempatan kerja dan meningkatkan devisa negara. Dengan adanya hal tersebut akan meningkatkan kehidupan ekonomi bangsa yang menunjang kehidupan nasional bangsa.
    3. Dari globalisasi sosial budaya kita dapat meniru pola berpikir yang baik seperti etos kerja yang tinggi dan disiplin dan Iptek dari bangsa lain yang sudah maju untuk meningkatkan kemajuan bangsa yang pada akhirnya memajukan bangsa dan akan mempertebal rasa nasionalisme kita terhadap bangsa.
  • Pengaruh negatif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme
    1. Globalisasi mampu meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa liberalisme dapat membawa kemajuan dan kemakmuran. Sehingga tidak menutup kemungkinan berubah arah dari ideologi Pancasila ke ideologi liberalisme. Jika hal tesebut terjadi akibatnya rasa nasionalisme bangsa akan hilang
    2. Dari globalisasi aspek ekonomi, hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri karena banyaknya produk luar negeri (seperti Mc Donald, Coca Cola, Pizza Hut,dll.) membanjiri di Indonesia. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia.
    3. Mayarakat kita khususnya anak muda banyak yang lupa akan identitas diri sebagai bangsa Indonesia, karena gaya hidupnya cenderung meniru budaya barat yang oleh masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat.
    4. Mengakibatkan adanya kesenjangan sosial yang tajam antara yang kaya dan miskin, karena adanya persaingan bebas dalam globalisasi ekonomi. Hal tersebut dapat menimbulkan pertentangan antara yang kaya dan miskin yang dapat mengganggu kehidupan nasional bangsa.
    5. Munculnya sikap individualisme yang menimbulkan ketidakpedulian antarperilaku sesama warga. Dengan adanya individualisme maka orang tidak akan peduli dengan kehidupan bangsa.

Pengaruh- pengaruh di atas memang tidak secara langsung berpengaruh terhadap nasionalisme. Akan tetapi secara keseluruhan dapat menimbulkan rasa nasionalisme terhadap bangsa menjadi berkurang atau hilang. Sebab globalisasi mampu membuka cakrawala masyarakat secara global. Apa yang di luar negeri dianggap baik memberi aspirasi kepada masyarakat kita untuk diterapkan di negara kita. Jika terjadi maka akan menimbulkan dilematis. Bila dipenuhi belum tentu sesuai di Indonesia. Bila tidak dipenuhi akan dianggap tidak aspiratif dan dapat bertindak anarkis sehingga mengganggu stabilitas nasional, ketahanan nasional bahkan persatuan dan kesatuan bangsa.

  • Pengaruh Globalisasi Terhadap Nilai Nasionalisme di Kalangan Generasi Muda

Arus globalisasi begitu cepat merasuk ke dalam masyarakat terutama di kalangan muda. Pengaruh globalisasi terhadap anak muda juga begitu kuat. Pengaruh globalisasi tersebut telah membuat banyak anak muda kita kehilangan kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan gejala- gejala yang muncul dalam kehidupan sehari- hari anak muda sekarang.

Dari cara berpakaian banyak remaja- remaja kita yang berdandan seperti selebritis yang cenderung ke budaya Barat. Mereka menggunakan pakaian yang minim bahan yang memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tidak kelihatan. Pada hal cara berpakaian tersebut jelas- jelas tidak sesuai dengan kebudayaan kita. Tak ketinggalan gaya rambut mereka dicat beraneka warna. Pendek kata orang lebih suka jika menjadi orang lain dengan cara menutupi identitasnya. Tidak banyak remaja yang mau melestarikan budaya bangsa dengan mengenakan pakaian yang sopan sesuai dengan kepribadian bangsa.

Teknologi internet merupakan teknologi yang memberikan informasi tanpa batas dan dapat diakses oleh siapa saja. Apa lagi bagi anak muda internet sudah menjadi santapan mereka sehari- hari. Jika digunakan secara semestinya tentu kita memperoleh manfaat yang berguna. Tetapi jika tidak, kita akan mendapat kerugian. Dan sekarang ini, banyak pelajar dan mahasiswa yang menggunakan tidak semestinya. Misal untuk membuka situs-situs porno. Bukan hanya internet saja, ada lagi pegangan wajib mereka yaitu handphone. Rasa sosial terhadap masyarakat menjadi tidak ada karena mereka lebih memilih sibuk dengan menggunakan handphone.

Dilihat dari sikap, banyak anak muda yang tingkah lakunya tidak kenal sopan santun dan cenderung cuek tidak ada rasa peduli terhadap lingkungan. Karena globalisasi menganut kebebasan dan keterbukaan sehingga mereka bertindak sesuka hati mereka. Contoh riilnya adanya geng motor anak muda yang melakukan tindakan kekerasan yang menganggu ketentraman dan kenyamanan masyarakat.

Jika pengaruh-pengaruh di atas dibiarkan, mau apa jadinya genersi muda tersebut? Moral generasi bangsa menjadi rusak, timbul tindakan anarkis antara golongan muda. Hubungannya dengan nilai nasionalisme akan berkurang karena tidak ada rasa cinta terhadap budaya bangsa sendiri dan rasa peduli terhadap masyarakat. Padahal generasi muda adalah penerus masa depan bangsa. Apa akibatnya jika penerus bangsa tidak memiliki rasa nasionalisme?

Berdasarkan analisa dan uraian di atas pengaruh negatif globalisasi lebih banyak daripada pengaruh positifnya. Oleh karena itu diperlukan langkah untuk mengantisipasi pengaruh negatif globalisasi terhadap nilai nasionalisme.

  • Antisipasi Pengaruh Negatif Globalisasi Terhadap Nilai Nasionalisme

Langkah- langkah untuk mengantisipasi dampak negatif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme antara lain yaitu :

  1. Menumbuhkan semangat nasionalisme yang tangguh, misal semangat mencintai produk dalam negeri.
  2. Menanamkan dan mengamalkan nilai- nilai Pancasila dengan sebaik- baiknya.
  3. Menanamkan dan melaksanakan ajaran agama dengan sebaik- baiknya.
  4. Mewujudkan supremasi hukum, menerapkan dan menegakkan hukum dalam arti sebenar- benarnya dan seadil- adilnya.
  5. Selektif terhadap pengaruh globalisasi di bidang politik, ideologi, ekonomi, sosial budaya bangsa.

Dengan adanya langkah- langkah antisipasi tersebut diharapkan mampu menangkis pengaruh globalisasi yang dapat mengubah nilai nasionalisme terhadap bangsa. Sehingga kita tidak akan kehilangan kepribadian bangsa.

Tinggalkan komentar

TEOLOGI BENCANA: Sebuah Pergeseran Paradigama Teologi Teosentris ke Teologi Antroposentris

  1. Pendahuluan

Menurut karl Rahner Herbert Vorgrimler dalam bukunya Theological Dictionary, kata teologi berasal dari bahasa yunani yang berarti cerita, terutama dari dongeng atau filsafat tentang dewa-dewa.[1] Sedangkan dalam pengetian lain juga dijelasakan, theologi terdiri dari ”Theos” yang berarti Tuhan dan “Logos” yang berarti Ilmu  (science, study, discoverse). Jadi theologi berarti ilmu tentang Tuhan atau ilmu ketuhanan. Dari sinilah istilah teologi sering dikaitkan dengan agama, akan tetapi pandangan inin tidak selamanya tepat, karana seorang teolog dapat menjalankan penyeledikannya sesuai dengan kebebasan tanpa ada hubungannya dengan agama.[2] Ringkasnya, teologi adalah ilmu yang membahas tentang hubungan manusia dengan Tuhan, baik berdasar kebenaran wahyu atau penyelidikan akal murni.

  1. Seputar Wacana Tentang Teologi

Pada mulanya istilah teologi muncul di kalangan orang kristen sebagai suatu usaha mereka untuk mendapat wahyu verbal Tuhan.[3] Kemudian disiplin ilmu ini berdiri sendiri, sekalipun sebagai sebuah disiplin ilmu teologi (dalam kristen) memeliki pengertian yang beragam, namun pada dasarnya ia bisa dipahami sebagai uraian rasional tentang iman kristen. Teologi dalam hal ini terbagi menjadi beberapa subdisiplin ilmu, studi kitab suci, sejarah gereja, etika teologis, teologis praktis dan teologis pastoral. Berdasar uraian singkat diatas, dapat ditegaskan bahwa (dalam Islam) sekalipun istilah teologis diadopsi dari kristen.[4] Namun yang pasti ruang lingkupnya jelas berbeda dengan studi skolastik kristen, dalam Islam teologi sering dipadankan dengan “Ilmu Kalam”. Penggunaan istilah tersebut setidaknya didasarkan pada asumsi bahwa keduanya mengarahkan pembahasan pada segi-segi mengenai ketuhanan dan derivasinya.[5]

Dalam tradisi keagamaan, teologi dipandang sebagai unsur penting yang mendasari sebuah agama, tanpa teologi yang menjadi dasar keimanan seseorang, maka tidka ada yang namanya agama. Oleh karena itu, bisa dipahami bahwa jika teologi menjadi bidang kajian yang telah mentradisi dalam semua agama, bahkan sejarah agama pada dasarnya adalah teologi.[6] Teologi dalam perspektif Nurcholis Majid dipandang sebagai bidang strategis sebagai upaya pembaharuan pemahaman dan pembinaan umat Islam, dikatakan strategis karena teologi merupakan aspek penting yang dapat berfungsi sebagai refleksi kritis tindakan manusia dalam melihat realitas sosial yang dihadapi.[7]

Ketika membicarakan masalah relasi Tuhan dan manusia, maka maenstrem pemikiran teologi selalu bersifat teosentris (Tuhan menjadi pusat segala kekuatan/kekuasaan dan manusia harus tunduk dan patuh dihadapan Tuhan). Cara pandang seperti ini, menganggap bahwa agama adalah cara orang untuk bertuhan, suatu teologi yang mengajak manusia untuk meninggalkan segala-galanya demi Tuhan. Dengan demikian, maka Tuhan tidak hanya menciptakan manusia, tetapi juga mengintervensi, mendatangi dan bersemayam dalam kehidupan duniawi. Karenanya manusia adalah kehidupan pasif, linier, status quo, monoton  yang semua itu merupakan wujud absolusitas skenario.[8]

Teologi teosentris seperti ini, sekalipun berdampak positif menurut Nurcholis Majid, namun sesungguhnya mempunyai efek samping yang sangat berbahaya, yaitu pembelengguan pribadi dan pemerosotan harkat martabat kemanusiaan.[9] Ditengah banyak persolan yang terjadi, banyak manusia yang bertanya apa relevansi teologi untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial, paradigma telogi teosentris hanya ”diam”. Bahkan teologi ini hanya dijadikan alat untuk melakukan penindasan kepada manusia. Oleh karenanya diperlukan subuah sadar usaha untuk memanusiakan teologi dan menteologikan manusia.[10] Sehingga pergeseran paradigma dalam teologi menjadi suatu keniscayaan.[11] Pergeseran paradigma yang dimaksud adalah paradigma antroposentris, suatu teologi yang menempatkan manusia sebagai pusat orientasinya (teologi sebagai inti memanusiakan dan menyejahterakan). Namun teologi antroposentris disini jelas bukan teologi antroposentris-sekuleris, dimana manusia sebagai raja yang sah untuk mengeksploitasi alam berdasar untung-rugi bagi kepentingannya. Melainkan teologi antroposenris-dialogis yang diwujudkan dalam keseharian, seseorang yang berketuhanan dengan sendirinya akan berkeprimanusiaan. Dengan demikian teolgi antroposentris tidak bermaksud untuk mengubah Tauhid, tetapi suatu upaya revitalisasi dan rektualisasi pemahaman keagamaan.

  1. Teologi Bencana; ke Arah Pemahaman Komprehensif
  2. Ayat-ayat Tentang Bencana

Q.S. Al Hadid yang artinya:

“tiada suatu bencanapun yang menimpa dimuka bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab Allah (lauh Al Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Dan sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah”

Q.S. Ar Rum: 41

“telah tampak kerusakan didarat dan dilaut disebabkan karena perbuatan tangan manusia supaya Allah meraskan kepada mereka sebagai akbat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar.

Q.S. As Syura: 30

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).

Q.S. Al Baqarah: 155

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan padamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira pada orang-orang yang sabar”

  1. Teologi Bencana; ke Arah Pemikiran Elegan

Berdasarkan Ayat-ayat diatas digambarkan secara umum bahwa, bencana yang terjadi tergolng dalam tiga kategori, yaitu Taqdir (Al Hadid:22), Azab (Ar rum: 41 dan As Syura: 30), dan Cobaan (Al Baqarah: 155). Jika dianalisis lebih dalam mengenai bencana, rumusan teologis yang mengasumsikan bencana adalah kemurkaan Tuhan (azab), maka disitu secara eksplisit sudah terkandung nada yang menyalahkan mereka yang menjadi korban. Demikian pula, rumusan teologis yang mengasumsikan bahwa bencana merupakan ujian atau takdir Tuhan, maka secara implisit kita sedang menyalahkan Tuhan. Kedua kecendrungan ini tentu bukanlah rumusan teologis yang dianggap elegan dan ideal tentang bencana alam. Oleh karenanya diperlukan sebuah rumusan teolgi yang tidak gegabah agar tidak menyalahkan mereka yang menjadi korban dan terhadap Tuhan sendiri.

Bertolka dari kenyataan diatas, maka maka akan menghadirkan konsep-konsep kunci agama yaitu Qadla dan takdir Tuhan. Secara bahasa Qadla berarti menentukan, memutuskan, memerintahkan dan memfasilitasi. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan Qadla merupakan hukum alam atau dalam teologi Islam dikenal dengan Sunnatullah. Dengan kata lain, hukum alam inilah yang menjadi “media” Tuhan untuk berkehendak di alam semesta, yang pada proses selanjutnya setelah seluruh rangkaian tercipta, maka hukum-hukum tersebut melahirkan ”takdir”. Akan tetapi, takdir tersebut bisa berupa bencana di satu sisi, dan berupa sebuah kenikmatan disisi lain. Hal ini sangat bergantung pada peran manusia untuk memainkan dan memilih dari sekian banyak hukum Tuhan tersebut. Oleh karena itu bencana bukanlah suatu hal yang harus diterima apa adanya, melainkan peran manusia sangat memungkinkan untuk mengganti antara takdir Tuhan dengan takdir yang lain, tergantugn seberapa besar usaha manusia.

Kombinasi antara pertimbangan rasional dengan teologis (Antroposentris dan Teosentris) inilah yang akan melahirkan sikap introspeksi terhadap apa yang terjadi sekaligus untuk mencari jalan keluar atas terjadinya masalah. Inilah yang harus menjadi pijakan dalam memahami peristiwa demi peristiwa yang melahrkan suka atau duka. Maka teologi sekarang harus direkonstruksi dalam konteks yang lebih komprehensip, sehingga dapat menjawab problem umat manusia.

  1. Penutup

Bencana yang terjadi sering menimbulkan spekulasi teologis dimasyarakat. Pada akhirnya terjebak dalam dua perangkap teologis yang mengharukan, entah menkambingkhitamkan korban bencana sendiri atau meyalahkan Tuhan yang dianggap sebagai pihak yang tak kenal ampun dan berbelas kasihan mengajar hambanya. Kiranya untuk keluar dari permasalahan ini yaitu dengan melakukan pergeseran paradigma teologi Teosentris ke teologi Antroposentris. Dalam pandangan seprti ini, maka bencana bukanlah suatu hal yang given, dimana harus diterima apa adanya, melainkan peran manusia sangat memungkinkan untuk mengganti antara takdiryang satu dengan takdir yang lain dari Tuhan.

 

Daftar Pustaka

Muhadi Zainuddin, Pemikiran Teologi al Zamakhsyari, Tesis Program Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga yogyakarta, 1975.

Ahmad Hanafi, Pengantar Teologi Islam, Jakarta: pustaka al Husna, 1992.

Budy Munawar Rahmat, Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah, jakarta: paramadina, 1994.

Nurcholis Majid, Disiplin Keilmuan Tradisional Islam; Ilmu Kalam (Sebuah Tinjauan Singkat Kritis kesejarahan), Jakarta: paramadina, 2000.

Rumadi, Masyarakat Post-Teologi Wajah Baru Agama dan Demokrasi Indonesia, Jakarta: mustika bahraid, 2000.

Airlangga Pribadi dan M. Haryono, Post Islam Liberalisasi, Membangun Demuman Mentradisikan Eksperimentasi, Jakarta: Pasirindo Bangamas Nagari, 2002.

Nurcholis Majid, Iman dan Emansipasi Harkat dan Martabat Kemanusiaan, dalam Islam Doktrin dan Peradaban, Jakarta: paramadina, 2000.

Amin Abdullah, Filasafat Kalam di Era Postmodernisme, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995.


[1]  Muhadi Zainuddin, Pemikiran Teologi al Zamakhsyari, Tesis Program Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga yogyakarta, 1975, hlm. 35.

[2]  Ahmad Hanafi, Pengantar Teologi Islam, (Jakarta: pustaka al Husna, 1992), hlm. 11.

[3]  Op.cit, hlm 35.

[4] Budy Munawar Rahmat, Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah, (jakarta: paramadina, 1994), hlm. 52.

[5] Nurcholis Majid, Disiplin Keilmuan Tradisional Islam; Ilmu Kalam (Sebuah Tinjauan Singkat Kritis kesejarahan), (Jakarta: paramadina, 2000) hlm. 201.

[6] Rumadi, Masyarakat Post-Teologi Wajah Baru Agama dan Demokrasi Indonesia, (Jakarta: mustika bahraid, 2000), hlm. 23

[7] Ibid

[8] Airlangga Pribadi dan M. Haryono, Post Islam Liberalisasi, Membangun Demuman Mentradisikan Eksperimentasi, (Jakarta: Pasirindo Bangamas Nagari, 2002), hlm. 95.

[9] Nurcholis Majid, Iman dan Emansipasi Harkat dan Martabat Kemanusiaan, dalam Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: paramadina, 2000), hlm. 99-100.

[10] Rumadi, Masyarakat Post-Teologi Wajah Baru Agama dan Demokrasi Indonesia, (Jakarta: mustika bahraid, 2000), hlm. 24.

[11] Amin Abdullah, Filasafat Kalam di Era Postmodernisme, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995), hlm. 42.

Tinggalkan komentar

REALITA PERMASALAHAN UMAT ISLAM DI ERA GLOBALISASI

Tidak dapat dipungkiri bahwa era sekarang adalah Era Amerika Serikat (al-Ashr al-Amriki). Seluruh dunia memiliki ketergantungan yang sangat besar terhadap AS, Israel dan sekutunya. AS dan Eropa yang beragama Nashrani dan Israel yang Yahudi sangat kuat mencengkeram dunia Islam. Bahkan sebagiannya dibawah kendali langsung mereka seperti Arab Saudi, Kuwait, Mesir, Irak dan lain-lain. Realitas yang buruk ini telah diprediksikan oleh Rasulullah saw. dalam haditsnya: Dari Said Al-Khudri, dari Nabi saw bersabda:” Kamu pasti akan mengikuti sunah perjalanan orang sebelummu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta hingga walaupun mereka masuk lubang biawak kamu akan mengikutinya”. Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah saw apakah mereka Yahudi dan Nashrani”. Rasul saw menjawab, “Siapa lagi!” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Beginilah nasib dunia Islam di akhir jaman yang diprediksikan Rasulullah saw. Mereka akan mengikuti apa saja yang datang dari Yahudi dan Nashrani, kecuali sedikit diantara mereka yang sadar. Dan prediksi tersebut sekarang benar-benar sedang menimpa sebagian besar umat Islam dan dunia Islam.

Dari segi kehidupan sosial, sebagian besar umat Islam hampir sama dengan mereka. Hiburan yang disukai, mode pakaian yang dipakai, makanan yang dinikmati, film-film yang ditonton, bebasnya hubungan lawan jenis dan lain-lain. Pola hidup sosial Yahudi dan Nashrani melanda kehidupan umat Islam dengan dipandu media massa khususnya televisi.

Dalam kehidupan ekonomi, sistem bunga atau riba mendominasi persendian ekonomi dunia dimana dunia Islam secara terpaksa atau sukarela harus mengikutinya. Riba’ yang sangat zhalim dan merusak telah begitu kuat mewarnai ekonomi dunia, termasuk dunia Islam. Lembaga-lembaga ekonomi dunia seperti IMF, Bank Dunia, WTO dll mendikte semua laju perekonomian di dunia Islam. Akibatnya krisis ekonomi dan keuangan disebabkan hutang dan korupsi menimpa sebagian besar dunia Islam.

Begitu juga pengekoran umat Islam terhadap Yahudi dan Nashrani terjadi dalam kehidupan politik. Politik dibangun atas dasar nilai-nilai sekuler, mencampakkan agama dan moral dalam dunia politik, bahkan siapa yang membawa agama dalam politik dianggap mempolitisasi agama. Begitu buruknya kehidupan politik umat Islam, sampai departemen yang mestinya mencerminkan nilai-nilai Islam, yaitu departemen agama, menjadi departemen yang paling buruk dan sarang korupsi.

Buruknya realitas sosial politik umat Islam di akhir zaman disebutkan dalam sebuah hadits Rasulullah saw., beliau bersabda: Dari Tsauban berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Hampir saja bangsa-bangsa mengepung kamu, seperti kelompok orang lapar siap melahap makanan”. Berkata seorang sahabat, “Apakah karena jumlah kami sedikit pada waktu itu?” Rasul saw. menjawab, “Jumlah kalian pada saat itu banyak, tetapi kualitas kalian seperti buih ditengah lautan. Allah mencabut rasa takut dari musuh terhadap kalian, dan memasukkan kedalam hati kalian penyakit Wahn”. Berkata seorang sahabat, “Wahai Rasulullah saw., apa itu Wahn?” Rasul saw. berkata, “Cinta dunia dan takut mati.” (H.R. Ahmad dan Abu Daud)

Inilah sebab utama dari realitas umat Islam, yaitu wahn. Penyakit cinta dunia dan takut mati sudah menghinggapi mayoritas umat Islam, sehingga mereka tidak ditakuti lagi oleh musuh, bahkan menjadi bulan-bulanan orang kafir. Banyak umat Islam yang berkhianat dan menjadi kaki-tangan musuh Islam, hanya karena iming-iming dunia. Bangsa Amerika, Israel dan sekutunya menjadi kuat di negeri muslim, karena di setiap negeri muslim banyak agen dan boneka AS dan Israel. Bahkan yang lebih parah dari itu, bahwa agen AS dan Israel itu adalah para penguasa negeri muslim sendiri atau kelompok yang dekat dengan penguasa.

Dunia dengan segala isinya seperti harta, tahta dan wanita sudah sedemikian kuatnya memperbudak sebagian umat Islam sehingga mereka menjadi budak para penjajah, baik AS Nashrani dan Israel Yahudi. Dan pada saat mereka begitu kuatnya mencintai dunia dan diperbudak oleh dunia, maka pada saat yang sama mereka takut mati. Takut mati karena takut berpisah dengan dunia dan takut mati karena banyak dosa. Demikianlah para penguasa dunia Islam diam, pada saat AS membantai rakyat muslim Irak, dan Israel membantai rakyat muslim Palestina.

MENGIKUTI YAHUDI DAN NASHRANI

Kecenderungan yang kuat terhadap dunia atau wahn, menyebabkan umat Islam mengekor dan tunduk patuh kepada dunia barat yang notabenenya dikuasi Yahudi dan Nashrani. Dan ketika umat Islam mengikuti Yahudi dan Nashrani, maka banyak sekali kemiripan dengan meraka. Beberapa kemiripian dan sikap mengekor yang dilakukan umat Islam terhadap Yahudi dan Nashrani, di antaranya:

  1. I.                    PENYIKAPAN TERHADAP AGAMA (SEKULER)

Kaum Yahudi dan Nashrani bersikap sekuler dalam kehidupan. Mereka mencampakkan agama dari kehidupan sosial politik. Dalam memandang sesuatu, Kaum Yahudi dan Nashrani tidak berdasarkan agama mereka. Ruang lingkup agama dipersempit hanya di tempat-tempat ibadah saja. Sedangkan kehidupan sosial politik jauh dari nilai-nilai agama. Karena mereka meyakini bahwa agama sudah tidak berfungsi lagi untuk memberikan solusi kehidupan.

Gerakan sekuler tumbuh dan berkembang di dunia barat, dan berkembang ke seluruh penjuru dunia seiring dengan datangnya para penjajah barat ke dunia Islam. Maka berkembanglah sekulerisme di dunia Islam. Kehidupan sosial politik di negara-negara Islam jauh dari nilai-nilai ke-Islaman dan sekulerisme begitu sangat kuatnya di dunia Islam.

Sedangkan di Indonesia, sekulerisme sangat mudah dibaca dan sangat transparan. Jika kita melihat partai-partai politik, maka mayoritasnya partai sekuler, sampai partai yang basis masanya ormas Islam sekalipun, masih sangat kental dengan nilai-nilai sekulernya. Sekulerisme begitu sangat dalam masuk dalam sendi-sendi kehidupan sosial politik di Indonesia. Simbol-simbol pemerintahan, pakaian masyarakat, bahasa yang digunakan dll sarat dari nilai-nilai sekulerisme. Sementara dakwah Islam, masih sangat sedikit yang mengajak pada kesempurnaan Islam dan penerapannya dalam kehidupan masyarakat. Dakwah yang dominan di Indonesia adalah dakwah tasawuf yang mengajak pada dzikir yang sektoral, pembinaan dan manajemen hati yang sektoral dan sejenisnya.

  1. I.                    PENYIKAPAN TERHADAP AL-QUR’AN

Pensikapan sebagian umat Islam terhadap kitab suci Al-Qur’an sebagaimana Yahudi dan Nashrani mensikapi Taurat dan Injil. Kemiripan sikap ini pula menimbulkan fenomena dan dampak yang agak sama yang menimpa antara umat Islam dengan mereka. Beberapa kemiripan tersebut seperti disebutkan dalam informasi Al-Qur’an dan Hadits sbb:

  1. Umiyah (Buta Huruf tentang Al-Qur’an) Allah berfirman, “Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga.” (Al-Baqarah 78)

Sifat yang menimpa bangsa Yahudi terkait dengan kitab Tauratnya juga menimpa umat Islam terkait dengan Al-Qur’an, dimana mayoritas umat Islam buta huruf tentang Al-Qur’an, dalam arti tidak pandai membacanya apalagi memahaminya dengan baik.

  1. Juz’iyah Al-Iman (Parsial dan Tidak Utuh dalam Mengimani Al-Qur’an) Allah berfirman, “Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (Al-Baqarah 85)

Ayat yang menyebutkan sikap Bani Israil terhadap Taurat ini juga menimpa umat Islam dimana banyak diantara mereka yang beriman pada sebagian ayat Al-Qur’an dan ingkar pada sebagian ayat yang lain. Umat Islam banyak yang beriman pada ayat yang mengajarkan shalat, puasa dan haji, tetapi mereka juga mengingkari ayat atau ajaran lain seperti tidak mengimani pengharaman riba’, tidak beriman pada ayat-ayat yang terkait hukum pidana (qishash dan hudud) dan hukum-hukum lain yang terkait dengan masalah politik dan pemerintahan.

  1. Ittiba Manhaj Al-Basyari (Mengikuti Hukum Produk Manusia) “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS Al-Maa-idah 49-50

Inilah musibah terbesar yang menimpa umat Islam di hampir seluruh dunia Islam pada akhir zaman, mereka mengikuti hukum sekuler buatan manusia. Bahkan di negara yang mayoritas penduduknya umat Islam, mereka tidak berdaya bahkan menolak terhadap pemberlakuan hukum Islam. Kondisi ini akan tetap berlangsung sehingga mereka merubah dirinya sendiri, berda’wah dan membebaskan dari semua pengaruh asing yang menimpa umat Islam.

  1. Tidak Memahami Kedudukan Al-Qur’an “Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (Al-Israa’:9)

Umat Islam tidak mengetahui dan tidak mendudukkan Al-Qur’an sesuai fungsinya. Al-Qur’an yang berfungsi sebagai hidayah untuk manusia yang hidup tetapi banyak diselewengkan, Sebagian umat Islam hanya menggunakan Al-Qur’an terbatas sebagai bacaan untuk orang meninggal dan dibaca saat ada orang yang meninggal. Al-Qur’an yang berfungsi sebagai pedoman hidup hanya ramai di musabaqahkan. Sebagaian yang lain hanya menjadikan Al-Qur’an sebagai kaligrafi yang menjadi hiasan dinding di masjid-masjid atau di tempat lainnya. Sebagian yang lain menjadikan Al-Qur’an sebagai jimat, yang lain hanya menjadi pajangan pelengkap perpustakaan yang jarang dibaca atau bahkan tidak pernah dibaca.

  1. Hajr Al-Qur’an (Meninggalkan Al-Qur’an) Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan”.

Meninggalkan Al-Qur’an adalah salah satu masalah besar yang menimpa umat Islam. Umat Islam banyak yang meninggalkan Al-Qur’an, dalam arti tidak memahami, tidak membaca, tidak mentadaburi, tidak membaca, tidak mengamalkan dan tidak menjadikan pedoman hidup dalam kehidupan mereka. Umat Islam lebih asyik dengan televisi, koran, majalah, lagu-lagu, musik dan lainnya. Jauhnya umat Islam menyebabkan hinanya mereka dalam kehidupan dunia. Salah satu rahasia kejayaan umat Islam apabila mereka komitmen dengan Al-Qur’an dan menjadikannya pedoman hidup.

  1. II.                  PENYIKAPAN TERHADAP AHLI AGAMA (KULTUS)

Allah Taala berfirman, “Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (At-Taubah: 31)

Inilah sikap Yahudi dan Nasrani terhadap ahli agama mereka. Dan ternyata banyak dari umat Islam yang mengkultuskan ulama dan kyai dan menempatkan mereka pada posisi Tuhan yang suci dan tidak pernah salah.

Terkait dengan surat At-Taubah 31, diriwayatkan dalam beberapa hadits diantaranya oleh Ahmad, At-Tirmidzi dan At-Tabrani bahwa Adi bin Hatim yang baru masuk Islam datang kepada Rasulullah saw. yang masih memakai kalung salib dan Rasulullah saw. memerintahkan untuk melepaskannya. Kemudian Rasul saw. membacakan ayat tadi. Adi menyanggahnya, “Wahai Rasulullah kami tidak menyembahnya”. Tetapi Rasulullah saw menjawabnya, “Bukankah mereka mengharamkan yang dihalalkan Allah dan menghalalkan yang diharamkan Allah?” Betul”, kata Adi. Rasul saw. meneruskan, “Itulah ibadah mereka”.

Demikianlah pendapat mayoritas ulama jika sudah menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah dan mentaatinya maka itulah bentuk penyembahan terhadap ahli agama. Dan ini pula yang banyak menimpa umat Islam, mereka mentaati secar buta apa yang dikatakan ulama atau kyai padahal bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits.

  1. III.                PENYIKAPAN TERHADAP DUNIA (RAKUS)

Penyakit utama Yahudi adalah sangat rakus terhadap dunia, baik harta, kekuasaan maupun wanita sebagaimana direkam dalam Al-Qur’an, Allah Taala berfirman, “Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan”. (Al-Baqarah 96)

Penyakit ini pula yang menimpa sebagian besar umat Islam sebagaimana disebutkan dalam hadits wahn. Perlombaan sebagian umat Islam terhadap dunia telah membuat mereka buta dan tuli sehingga menghalalkan segala cara. Inilah fenomena yang terjadi di Indonesia dan sebagian negeri muslim lainnya. Mayoritas penduduknya muslim tetapi menjadi negera terkorup di dunia, paling banyak hutangnya, paling jorok, paling rusak dll. Sungguh sangat jauh antara Islam dan realitas umat Islam.

Di antara dorongan dunia yang paling kuat daya tariknya adalah syahwat wanita. Dan inilah yang sedang menimpa kita. Fenomena seks bebas, pornografi merupakan santapan harian bagi sebagian umat Islam. Dan realitas ini sangat cerdas dimanfaatkan oleh broker seks bebas. Manusia yang sedang rakus dan lahap terhadap syahwat mendapatkan makanan dan pemandangan yang sangat cocok bagi mereka. Lebih ironis lagi orang-orang yang rusak itu dianggap paling berjasa oleh sebagian kyai dan ulama, karena dapat menghibur manusia Indonesia yang lagi stress. Memang manusia Indonesia sedang terkena penyakit dan penyakit itu adalah penyakit hati dan syahwat. Dan mereka memuaskan rasa sakit itu, sebagaimana narkoba memuaskan orang yang sedang kecanduan narkoba itu.

Rasulullah saw. bersabda: Dari Abu Said Al-Khudri ra. Nabi saw. bersabda: ” Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau, dan sesungguhnya Allah akan menguji kalian, maka Allah akan melihat bagaimana kamu memperlakukan dunia. Hati-hatilah terhadap dunia dan hati-hatilah terhadap wanita, karena fitnah yang pertama menimpa Bani Israil adalah pada wanita” (HR Muslim)

  1. IV.               PENYIKAPAN TERHADAP AKHIRAT (MEREMEHKAN)

Allah SWT. berfirman: Artinya: Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja.” Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?”. (Bukan demikian), yang benar, barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya” (QS Al-Baqarah 80-81).

Inilah sikap mereka yaitu Yahudi terhadap akhirat, lebih khusus lagi terhadap neraka. Mereka meremehkan siksa api neraka. Dan ternyata penyakit ini juga banyak menimpa umat Islam. Sebagian umat Islam yang meremehkan siksa api neraka membuat mereka melalaikan kewajiban Islam, seperti menegakkan shalat, zakat, puasa, haji, menutup aurat dll. Pada saat yang sama mereka juga tidak takut berbuat dosa. Inilah fenomena potret umat Islam.

Umat Islam yang melakukan korupsi, suap, manipulasi, dan curang dalam kehidupan politik. Umat Islam yang bertransaksi dengan riba dalam kehidupan ekonomi. Umat Islam yang meramaikan tempat hiburan dan prostitusi dalam keremangan malam, bahkan siang sekalipun. Umat Islam yang memenuhi meja-meja judi disetiap pelosok kota dan negeri. Umat Islam yang banyak menjadi korban narkoba. Umat Islam dan sebagian kaum muslimat yang buka aurat bahkan telanjang ditonton masyarakat. Dan masih banyak lagi daftar kejahatan sebagain umat yang mengaku umat Islam. Dan itulah potret dan realitas umat Islam hari ini.

Dan ketikan umat Islam terus mengikuti pola hidup Yahudi dan Nashrani dan mengekor pada kepentingan mereka, maka akan berakibat sangat buruk yaitu murtad dan jatuh pada jurang kekafiran. Naudzubillahi min dzaalik. Semoga kita diselamatkan dari bahaya tersebut sebagaimana yang Allah ingatkan kepada kita semua: “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.” (Ali Imran: 100

Tinggalkan komentar

IPTEK DAN PENGARUHNYA TERHADAP NILAI-NILAI KEMANUSIAAN

Manusia dalam dimensi teknik pada masa lau kurang mendapat dari kajian filsafat. Hal demikian dikarenakan beberapa sebab:

Pertama, filsafat lebih dikuasai oleh aliran metafisik, terutama aliran Platonis. Dalam filsafat Yunani, kerja keras dipandang sebagai hal negatif.

Kedua, filsafat lebih merupakan “conceptual engineering” atau rekayasa pemikiran dan kurang merupakan “material engineering” atau rekayasa materi.

Ketiga, adanya pandangan dikhotomis antara teori dan praktek.

Keempat, filsafat antropologi kurang memperhatikan lingkungan. Lingkungan manusia hanya dipandang sebagai panggung dimana drama moral dan religi dipentaskan. Hampir-hampir tidak pernah dipertanyakan apakah dunia itu manusiawi atau tidak.

Pada akhir-akhir ini filsafat memberikan perhatian yang besar dan luas terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Tulisan-tulisan dalam bidang ini dapat dibagi dalam dua kelompok :

Pertama, kelompok yang menekankan nilai-nilai positif dari ilmu pengatahuan dan teknologi. Teknologi dilihat sebagai eksistensi dari manusia, seperti kata Mc Luhan, atau teknologi dianggap sebagai sebagai proses spiritualisasi dari material, atau sebgai proses dimana manusia semakin mendunia.

Kedua, kelompok lain yang lebih menitikberatkan pada kritik dan keprihatinan terhadap ilmu pengetahuan modern dan teknologi. Asumsi ideologisnya adalah kenyataan timbulnya akibat-akibat yang fatal bagi manusia, karena oleh teknologi dan salah penggunaan kecanggihan ilmu pengetahuan, seperti pencemaran, alienasi, hancurnya tata nilai kemanuisaan dan lain sebagainya.

Argumen yang dikemukakan berbeda-beda menurut pandangan dasar masing-masing tentang manusia dan dinamika teknologi sendiri.

Meskipun selalu terdapat adanya hubungan dialektis antara ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi dewasa ini terjadi perubahan tekanan. Pandangan tradisional menganggap ilmu pengetahuan sebagai spekulasi murni, sedangkan teknologi sebagai penerapan dari rumusan-rumusan ilmiah dalam hidup praktis. Pada dewasa ini batas antara kegiatan ilmu pengetahuan dan kegiatan teknik tidak dapat ditegaskan secara tajam, terutama dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan baru, seperti managemen, sosiologi, psikologi, mana yang disebut ilmunya dan mana yang tekniknya?. Untuk menunjukkan kaitan yang erat antara ilmu pengetahuan (science) dan teknologi itu, mak J. Elul menggunakan istikah “technique” yang berarti “keseluruhan dari metoda yang dicapai secara rasional dan memiliki efisiensi mutlak (dalam tahap perkembangan tertentu) dalam setiap kegiatan manusia”.

Peranan ilmu pengetahuan dna teknologi memangnampak begitu besar dan menetukan dalam zaman modern, lebih-lebih bagi negar-negara sedang berkembang yang sedang menjalankan program pembangunannya. Pengaruhnya bukan saja terbatas pada pola pemakaian secara praktis, tetapi secara menyeluruh sampai pada kehidupan sosial budaya. Meskipun demikian perlu disadari, bahwa unsur-unsur yang infrastruktural dalam kehidupan manusia tidak dapat cuma digantikan oleh peranan ilmu pengetahuan dan teknologi saja, masih ada unsur-unsur lain yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia, seperti tata nilai, tata hidup dan sebagainya. Antara unsur yang infrastruktural itu terjadi interaksi yang ikut menentukan kebudayaan manusia.

Ilmu pengatahuan dan teknologi yang sedang berkembang di Indonesia, seperti halnya di negara-negara berkembang lainnya, tumbuh dalam cangkokan budaya. Ini berarti bahwa tata pikir, tata nilai dan tata hidup yang asli tidak dengan sendirinya dapat sejalan dan mendukung terhadap kecenderungan-kecenderungan ilmu pengetahuan dan teknologi modern tersebut. Membanjirnya ilmu pengetahuan dan teknologi dari luar ke dalam pasaran kehidupan masyarakat Indonesia tanpa diimbangi dengan kepribadian yang kuat atau orientasi dan siakp yang utuh (integrated) dalam menghadapi secara baik dan tepat, akan menimbulkan munculnya bentuk dan pola hidup yang “alienated” (terasing) seperti istilah yang dipakai Erich From, seperti kebudayaan etalage, yang tidak mampu menyerap dan mengintegrir ilmu pengetahuan dan teknologi dalam sistem nilai yang dihayati.

Kecenderungan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Harus diakui bahwa ilmu pengethauan dan teknologi merupakan pencapaian tertinggi dalam kebudayaan manusia, dan produk penerapannya dapat memberi banyak manfaat bagi manusia untuk peningkatan kualitas hidupnya dan meringankan beban hidupnya.

Secar historis tonggak-tonggak yang mendorong tumbuhnya ilmu pengetahuan modern dan memacu perkembangannya terlihat dalam :

  1. Renaissance (kebangkitan kembali), yang tumbuh sebagai orientasi baru dalam abad ke-15 dan 16 M merupakan titik balik yang pada dasarnya meletakkan sendi-sendi bangunan ilmu pengetahuan modern. Disitulah terungkap gerakan subyektivitasme yang memberikan kepercayaan manusia pada diri sendiri, kepada kemampuan sendiri, dan harapan untuk mampu mencapai keinginan dan cita-cita dengan kekuatannya sendiri. Suatu optimisme baru yang berorientasi kepada “antorposentrisme” (humanisme), “individiualisme” “natuaralisme”. Pemikir-pemikir seperti Galileo Galilei dan Kepler adalah perintis gerakan tersebut.
  2. Rasionalisme, suatu gerakan yang mempertajam renaissance, yang dialkukan oleh Descrates pada abad ke -17. Descrates maju selangkah dengan thesis bahwa manusia pada hakekatnya adalah “kesadaran”, adalah “subyek”, adalah “aku”. Disinilah kunci bangunan ilmu pengetahuan modern, yakni ilmu pengetahuan harus dimulai dari “rasio” dari kesadaran manusia. Dengan demikian terkuaklah tabir keimanan dan kepercayaan yang menyelubungi alam kehidupan manusia pada zaman itu, menjadi terbuka lebar. Manusia merasa mampu melihat kenyataan dengan mata kepalanya sendiri.
  3. Aufklaring (zaman pencerahan) pada abad ke 18 M. Ratio akhirnya memberikan penerangan, mendatangkan kecerahan dalam natural manusia. Kenyataan bukan sebagai “yang dipercaya” tetapi sebagai “yang dilihat”, “yang dialami” sendiri. Orientasi ini dengan sendirinya mendorong kepada penghargaan terhadap pengalaman, terhadap apa yang ditangkap melalui panca indera. Suatua empirisme yang mendorong laju naluri “ingin tahu” manusia menjadi rangkaian latihan ilmiah secara logis dan sistematis. Atas dasar orientasi empirisme inilah maka para ilmuan berusaha untuk menemukan cara dan metode ilmiah empirik untuk menangkap dan mengungkapkan realitas yang kongkrit. Demikian pada abad ke 19 M menjadi perubahan-perubahan besar dalam alam pikiran masyarakat, yang terungkap baik dalam kemajuan ilmu pengetahuan maupun teknologi, yang mengantar lahirnya abad industri.

Sejalan dengan proses dasar-dasar pertumbuhan ilmu pengetahuan tersebut, terjadilah dua peristiwa budaya, yakni terjadi proses sekularisme dan fragmentasi. Sekularisme adalah istilah yang sekarang banyak dibicarakan, tetapi relaitasnya sudah berlangsung sejak beberapa abad yang lampau. Pada hakikatnya sekularisme menginginkan adanya perbedaan tajam antara agama dan ilmu pengetahuan, dan memandang ilmu pengetahuan itu otonom dalam dirinya. Mistilah sekularisme menunjukkan pengertian pemindahan sesuatu dari lingkungan sakral ke dalam lingkungan dunia. In concreto pada zaman itu sekularisme merupakan usaha-usaha pembebasan diri dari yurisdiksi agama. Hal ini dapat dimaklumi karena sering terjadi wewenang keagamaan terlalu jauh mencampuri keduniawian. Dalam sekularisme juga terkandung keinginan emansipatoris manusia menuju kepada pembebasan dari tekanan-tekanan luar. Dengan demikian dalam sekularisasi ini terbaca adanya kesadaran akan demensi baru, yaitu otonomi manusia, dimana manusia akan dapat mengembangkan bakat dan kemampuannya secara otentik dan rasional.

Fragmentasi, merupakan gejala baru pada pada zaman itu bersamaan dengan tumbuhnya ilmu pengetahuan empiris. Obyek ilmu pengetahuan ialah gejala penginderaan yang merupakan data individual. Dan sesuai dengan sifat data individual itu maka pendekatan ilmiah yang dilakukan ialah memisahkan jenis data tertentu dari jenis data lainnya ke dalam masing-masing kelompok. Pada dasarnya, kata E. Cassirer, bahwa ilmu pengetahuan empiris itu bersifat fragmentaris sehingga memberikan pandangan fragmentaris pula. Adanya diferensiasi dan spesialisasi yang terjadi dalam ilmu-ilmu pengetahuan empiris lebih  mendukung fragmentaris pandangan dan wawasan, sehingga sulit diperoleh pandangan yang integral dan konprehensif. Fragmentasi ini dapat membawa orang hidup dalam dunianya masing-masing, terpanjang dalam keahliannya, dan lebih ekstrim lagi menjadi tertutup dan sulit berkomunikasi dengan dunia luar.

Dalam iklim dan pola pemikiran  tersebut di atas, maka muncullah sebagai kelanjutannya beberapa orientasi yang dapat kita ikuti sejak abad ke-19 M, yang berupa :

  1. Sekularisme.

Orientasi ini bukan lagi sebagai sikap emansipatoris dan otonomi manusia, tetapi sudah melihat dunia sebagai satu-satunya kenyataan yang mandiri. Orientasi ini secara bertahap disertai dengan sikap yang menolak campur tangan Tuhan dalam perilaku manusia, seperti terlihat dalam orientasi “Deisme” di Inggris pada abad ke-19 M. yang pada akhirnya ditentukan oleh sikap radikal yang menolak eksistensi Tuhan itu sendiri sebagai kenyataan absolut. Maka sekularisme berkembang menjadi atheisme. Bentuk-bentuk atheisme dapat terwujud dengan ungkapan-ungkapan seperti :

–          Manusia sebagai tujuan dirinya sendiri. (Marx)

–          Manusia sebagai kebebasan mutlak (Sartre)

–          Tuhan sudah mati (Nietzsche)

Dengan potensinya intrinsik dan natural, manusia merasa mampu untuk berbuat segalanya dan siap menjadi penguasa tunggal di dunia. Dimensi religius sebagai ciri hakiki manusia diingkari secara radikal.

  1. Scientisme

Yang menyatakan kebenaran adalah ditangan science (ilmu pengetahuan). Tidak ada kebenaran kecuali kebenaran ilmiah. Orientasi ini merupakan pendewaan terhadap ilmu pengetahuan, yang pada akhirnya berkembang menjadi suatu ideologi, karena beroretensi mampu mengubah dunia dengan suatu arah, arti dan nilai baru dalam kehidupan manusia ini. Kebahagiaan manusia harus dicari melalui proses kegiatan ilmiah dan hukum-hukum yang berlaku dalam ilmu pengetahuan, yang kemudian dianggap telah berhasil mengungkapkan penemuan-penemuan baru yang serba menakjubkan.

  1. pragmatisme

pandangan ini melihat bahwa dengan kemajuan ilmu pengetahuan, segala sesuatu menjadi relatif, termasuk manusia. Manusia yang zaman renaisanse dijadikan unggulan utama, sekarang tidak lagi dilihat sebagai ukuran. Dan kehidupan, bukan manusia sebagai wujud yang menentukan, tetapi kegunaan dan fungsinya. Sesuatu hanya akan bernilai sejauh ia memberikan kegunaan atau kemanfaatan dan berfungsi bagi kehidupan manusia. Dari pandangan ini jelaslah bahwa nilai-nilai menjadi relatif dan orientasi orang terarah pada hal-hal utiliter (ada kegunaannya), dan dengan demikian sudah mengarah pada materialisme.

 

Eksistensi ilmu pengetahuan dan perkembangannya yang pesat melahirkan hasil yang mengagumkan dalam wujud teknologi, merupakan raksasa yang kuat dan kuasa. Begitu besarnya pengaruh teknologi sehingga ia bukan saja merupakan sarana kehidupan manusia, tetapi sudah berubah menjadi tujuan hidup manusia.

 

Teknologi mula-mula merupakan sumberdaya atau  resource untuk menciptakan kekayaan melaui produksdi dan produktifi yang lebih besar. Produksi ini pada mulanya terbatas pada produksi material, merupakan tindakan manusia terhadap alam dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya,. Sasarannya ialah mengubah obyek dalam keadaan alamiahnya kedalam kondisi yang dapat mencukupi kebutuhan manusia. Bertambahnya pengetahuan dan pengalaman manusia dalam menghadapi alam memperluas penggunaan alat-alat kerja dan teknologi. Cara produksi diperbaiki, diperluas dan dirasionalisasikan. Perkembangan kekuatan produksi menjurus kepada akumulasi dan konsentrasi modal dan pengetahuan. Hal ini terutama terjadi dalam teknologi yang padat modal (capital intensive) padat penelitian (research intensive) dan padat organisasi (organization intensive). Produksi akhirnya tidak hanya meliputi produksi material, tetapi juga prtoduksi sosial, yaitu terciptanya hubungan-hubungan sosial dalam produksi. Hubungan-hubungan sosial berintegrasi dengan produksi material dan mewujudkan sistem produksi.

Salah satu ciri teknologi modern ialah kecenderungannya untuk menjadi otonom. Sejak awal revolusi industri pemikir-pemikir sosial seperti Comte, Marx, juga Freud telah menyinggung masalah otonomi teknologi. L. Winner yang mengembangkan pemikiran J. Ellul menunjukkan bahwa tekonologi berkecenderungan untuk lepas dari pengendalian manusia dalam dua arah, yaitu:

  1. Teknologi menciptakan kebutuhan-kebutuhan yang hanya dapat dipuaskan oleh teknologi sendiri.
  2. Teknologi mengubah masyarakat, kepercayaan, adat-istiadat dan organisasinya, sehingga dapat disesuaikan dengan tuntutan dan teknologi.

Kedua hal ini oleh Winner disebut dengan istilah “the technological imperative” (keharusan teknologi) dan “reverse adaptatif” (adaptasi berbalik).

Sedikit ungkapan di atas dapat memberikan isyarat, bahwa teknologi bukan saja mempengaruhi proses pertumbuhan sosial budaya, tetapi malah menciptakan kebudayaan baru, seperti istilah Herbert Marcuse, salah seorang yang sangat mencemaskan perkembangan teknologi yang tidak terkendali. Begitu besarnya pengaruh teknologi, sehingga bukan saja merupakan sarana kehidupan manusia, tetapi sudah berubah menjadi penguasa manusia, menjadi tujuan hidupnya. Akibatnya ialah teknologi memisahkan manusia dari tujuan karyanya dan dengan demikian menimbulkan alienasi terhadap masyarakat dimana dia hidup, teknologi menjadi tidak compatible (tidak rukun dan harmonis) dengan nilai-nilai ke4manusiaan.

Pengaruh Iptek terhadap Nilai-Nilai Sosial dan Kemanusiaan

Sistem industri yang menyatu dengan ilmu pengetahuan dan teknologi sudah menjalani suatu lompatan yang mutatif, bila dibandingkan dengan  industri rumah tangga atau industri desa tradisional. Bila orang-orang Yunani dan Arab dulu bermatematika dan berdiskusi ilmiah tentang gejala-gejala alam, hukum-hukumnya dan rahasianya interaksinya, demikian juga orang-orang Cina meledakkan mesiu dan kembang-apinya, mereka melakukkannya demi kecintaannya kepada pengetahuan murni, dermikian kebahagiaan hati yang melonjak karena merasa suatu rahasia alam yang terungkapkan. Tapi dunia Barat sesudah abad-abad pertengahan, dengan rasionalisme dan sustu ideologi tertentu yang tidak datang dari kepercayaan nenek moyang atau ajaran agamanya, tetapi dari suatu khas yakni segugus unsur kualitatif yang baru, yakni prinsip pemanfaatan, lalu tumbuh menjadi manipulasi dan eksploitasi berkat berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi baru. Mesiu dipakai untuk meriam-meriam perang dan astronomi digunakan untuk mencari jalan perdagangan melintasi Tanjung Harapan ke kepulauan rempah-rempah. Hukum-hukum alam dan pengetahuan murni diubah menjadi pengetahuan terapan, menjadi teknologi, dioperasionalkan menjadi industri, dan dilindungi oleh suatu sistem politik dan kekuatan militer tertentu, dan demi pemasarannya yang struktural harus dimanfaatkan, menjadi manipulasi dan eksploitasi sekuruh dunia.

Kehidupan manusia yang digambarkan menjadi cerah dalam zaman Aufklarung dengan variasi orientasi dan inspirasinya, kini secara totaliter dan represif diarahkan kepada suatu tujuan, yakni kelestarian dan kejayaan kapitalisme modern. Dimensi-dimensi lain ditekan karena tidak sesuai dengan tujuan utama tersebut. Hal ini dapat dilaksanakan dengan lancar, karena teknologi modern mampu memberikan kepuasan semu kepada kebutuhan-kebutuhan masyarakat, dengan memasukkan motivasi serta pengaturan yang tampaknya rasional. Dalam situasi demikian itulah maka manusia bersikap pasif dan reseptif dan tidak mampu lagi menuntut perubahan.

Dalam kehidupan yang serba teknologi ini, manusia dapat mengalami alienasi, manusia tidak lagi hidup secara langsung bebas dengan lingkunagnnya, tetapi secara berangsur-angsur hidup dikelilingi oleh teknologi, organisasi dan sistem yang diciptakan sendiri. Memang berkat ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia dapat bangkit dari tekanan berat alam yang selalu mengganggunya, akan tetapi secara sistematis mulai tergantung pada hasil ciptaannya dan organisasinya. Dominasi alam dapat dilepaskan, tetapi teknologi dan birokrasinya bangkit dengan dominasi dan kekuatannya yang dahsyat menguasai dan menjadikannya tergantung dan lemah, kata Jurgen Moltmann.

–          Dia berbusana, karena melaksanakan perintah industri mode.

–          Di abepergian jauh, karena ditransportasi jaringan bisnis.

–          Dia giat bekerja, karena harus menjadi mata rantai sistem produksi.

–          Seniman melukis, bukan semata mencuatnya rasa estetika dalam jiwanya, tetapi karena kurs komersial.

–          Diplomasi bukan lagi seni negarawan, tetapi karena kesimpulan analisa rahasia inteligence agencies.

–          Perang bukan lagi duel ksatria lawan ksatria, tetapi perlombaan spesialis antara laboratorium satu dengan yang lain.

–          Sarjana tidak lagi meneliti karena cintanya pada ilmu pengetahuan dan kebenaran yang diyakini, tetapi karena kesimpulan studi yang sudah dipesan.

Dalam menghadapi situasi demikian itulah orang mulai sadar dengan datangnya krisisi kehidupan dewasa ini, dalam arti struktur kehidupan sosial tidak mampu lagi memberikan pemecahan yang diharapkan, untuk menjamin kelestarian sistem kehidupan itu sendiri.

Bagi Indonesia, tantangan ini bukan saja terbatas pada bagaimana menghindari kecenderungan-kecenderungan dasar perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut di atas yang telah dirasakan oleh masyarakat Barat, melainkan juga bagaimana membentuk struktur sosial budaya yang mampu menghadapinya. Hal ini bukan hanya menjadi tanggung jawab ideologi dan strategi pembangunan nasional, tetapi juga tugas agama dan budaya secara institusional.

QS Al Anfal:53

Muhammad Tholhah Hasan, Islam dan Masalah Sumber Daya Manusia, Jakarta: Lantabora Press, 2003,  Hal. 139-151

Tinggalkan komentar

PERANAN DA’I DALAM PEMBANGUNAN MANUSIA

PERANAN DA’I DALAM PEMBANGUNAN MANUSIA
Dakwah, pada hakekatnya adalah ‘’upaya sadar’’ untuk mempengaruhi dan mengajak orang lain, atau kelompok tertentu , agar mau mengikuti ‘’jalan kebenaran’’ (sawaas-sabil). Dalam konteks Dakwah Islamiyah, yang di maksud dengan jalan kebenaran itu adalah ‘’Agama Islam’’.
Fungsi dakwah dan peranannya, tidak lain adalah memberikan jalan keluar yang benar dan tepat kepada umat manusia dari berbagai macam situasi yang serba kelam (darkness) menuju situasi yang terang (brightness) ‘’Litukh-rija an-nass mina azhulumat ila an-nur’’.
Watak dasar dakwah adalah mengubah (bersifat transformatif), ke arah yang lebih baik. Namun di lain sisi dakwah juga mempertahankan prinsip-prinsip ajaran atau nilai-nilai fundamental, yang di yakini kebenarannya, yang menjadi jati diri. Oleh karena itu dakwah juga bersikap mempertahankan dan melestarikan ajaran (bersifat konservatif).
Secara marko, eksistensi dakwah Islamiyah senantiasa bersentuhan dan bergelut dengan realitas yang mengitarinya. Dalam perspektif historis, pergumulan dakwah Islamiyah dengan realitas sosio-kultural menjumpai dua kemungkinan:
Pertama: Dakwah Islamiyah mampu memberikan out put atau hasil serta pengaruh terhadap lingkungan, dalam artian memberi dasar pandangan (wijhatun nazhor), dasar filosofi, arah, dorongan dan pedoman perubahan masyarakat , sampai berbentuk realitas yang baru.
Kedua: Dakwah Islamiyah ‘’di pengaruhi’’ oleh perubahan masyarakat, dalam artian eksistensi corak, pendekatan dan arahnya. Ini berarti bahwa kualitas dakwah selalu dipengaruhi oleh sistem sosio-kultural yang ada.
Realitas Sosial Yang Di Hadapi Dakwah Kita
Penduduk Indonesia berdasarkan SP-1990 berjumlah sekitar 178,63 juta jiwa, dari jumlah itu yang beragama Islam 87,7%, Kristen 5,8%, Katholik 3,2%, Hindu 1,9%, Budha 1,1% dan di luar pemeluk agama-agama tersebut sebesar 0,3%. Sementara pada SP-2000 di perkirakan jumlah penduduk mencapai 203,5 juta jiwa; yang beragama Islam 87,9%, Kristen 5,7%, Katholik 3,3%, Hindu 1,85, Budha 1,1% dan pemeluk agama lain 0,2%. Dari data di atas penduduk yang beragama Islam ada kenaikan sebesar 0,2%; sedangkan pemeluk agama Katholik, Kristen,Hindu dan pemeluk agama lainnya masing-masing turun 0,1%.
Hampir di semua propinsi penduduk agama Islam merupakan mayoritas, malah umumnya diatas 90%. Menurut SP-2000 penduduk Iriran Jaya yang beragama Kristen sebesar 63,78% dari jumlah penduduknya, dan di Bali pemeluk agama Hindu sebesar 88,05%. Pemeluk agama Budha yang terbanyak berada di Kalimantan Barat yakni sebesar 8,95% dari penduduknya.
Penyebaran penduduk yang beragama Islam dalam SP-2000 sebanyak 57,9% berada di pedesaan, sedangkan 42,1% berada di perkotaan, sebaliknya yang beragama Budha, sebesar 86,1% pemeluknya berada di perkotaan, sedangkan yang berada di pedesaan hanya 16,9%.
Penduduk agama Islam yang berumur 5 tahun ke atas pada SP-1990 sebanyak 138 juta jiwa, sementara pada SP-2000 sebanyak 30,4% dari jumlah penduduk yang mencapai 203,5 juta jiwa. Pada SP-1990 keadaan pendidikannya sebagai berikut:
a. Belum/tidak pernah sekolah sebanyak 25,7 juta jiwa atau setara dengan 18,7%.
b. Masih sekolah formal sebanyak 36,9 juta jiwa atau setara dengan 27,7%.
c. Sudah tidak sekolah lagi sebanyak 75,4 juta jiwa atau setara dengan 54,6%.
Dalam SP-2000 agak kesulitan menampakkan dalam bentuk angka karena adanya dua propinsi yaitu propinsi Nangroe Aceh Darussalam dan propinsi Maluku tidak tersedia data.
Sedangkan pendidikan tertinggi yang ditamatkan oleh penduduk beragama Islam pada usia 10 tahun ke atas menurut SP-1990 prosentasenya sebgai berikut:
a. Belum/tidak pernah sekolah sebanyak 16,3%
b. Belum tamat SD/Madrasah sebanyak 32,2%
c. Tamat SD/Madrasah sebanyak 31,0%
d. Tamat SLTP sebanyak 10,3%
e. Tamat SLTA sebanyak 8,9%
f. Tamat D1/D2 sebanyak 0,2%
g. Tamat perguruan tinggi sebanyak 1,1%
Dengan demikian, kita sadari bahwa kebododhan masih merupakan faktor kelemahan bagi umat Islam.
Dari data-data yang disajikan dari Biro Pusat Statistik (BPS) antara tahuan 1992-1994 menunjukkan bahwa satu dari setiap tujuh orang Indonesia adalah miskin sekali, 3,2% angkatan kerja masih menganggur. Sekitar 36,6% dari jumlah penduduk yang bekerja, kerjanya kurang dari 35 jam per minggu (bahkan dalam BPS-2000 angka ini masih tetap). Lebih dari 77% hanya berpendidikan sekolah dasar. Lebih dari 97% unit usaha pada tahun 1992 beromset kurang dari Rp 50 juta partahun (usaha kecil). Dalam keluarga petani sekitar 51,6% rumah tangga petani adalah masuk dalam kategori petani gurem yang mengolah lahan pertanian kurang dari setengah hektar.
Dari data informasi ini, kita ketahui bahwa kemiskinan masih merupakan faktor kelemahan umat Islam. Dan kondisi memprihatinkan ini masih ditambah lagi dengan kemerosostan moral atau akhlak, kekurangan gizi, jaminan kesehatan, dan juga kemiskinan informasi disamping ketidakmampuan untuk bersaing. Keadaan dan realitas itu, merupakan az zulumat yang menjadi tantangan dakwah Islamiyah kita.
Peranan Dai dalam Pembangunan Manusia Seutuhnya
Manusia yang seutuhnya itu bagaimana? Masalah ini memanmg masih memerlukan pendiskusian yang lebih mendalam, tetapi tidak mungkin dipaparkan sekarang ini. Tapi ada baiknya dipakai bebrapa parameter:
a. Dalam GBHN 1993 dan GBHN tahun berikutnya diisyarakat manusia yang utuh itu dalah : “Yang beriman dan bertaqwa kepada Tuahn Yang Maha Esa, berbudi pekerti yang luhur, berkepribadian, cinta tanah air, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja, bertanggung jawab dan produktif serta sehat jasmani dan rohani”.
b. Dalm konteks Islam, para Rasul dan Nabi adalah figur manusia seutuhnya. Mereka itu adalah orang yang mempunyai : basthotan fil ‘ilmi wal jismi, qolbun salim, qowiyyun amin, hafizhum ‘alim, shiddiq, amanah, tabligh, fathonah, shobur, uswatun hasanah, ‘abid dan lain-lain. Mereka dalam melakukan dakwah bukan hanya memebrikan mau’izhah hasanah tetapi juga memberikan uswah hasanah.
Seperti dikemukakan di atas, bahwa watak dasar dakwah adalah mengubah masyarakat menjadi lebih baik dari sebelmnya, mencari jalan keluar dari zhulumat menjadi kondisi yang nur.
Satu tahun sebelum wafat, Nabi Muhammad saw berbicara dihadapan sahabatnya:
الستم ضلالا فهدا كم الله بى؟
وكنتم متتفرقين فأ لفكم الله بى؟
وكنتم عا لة فأ غنكم الله بى؟
“Tidakkah kalian dulunya merupakan masyarakat yang sesat hidupnya, kemudian Allah memberikan petunjuk kepada kalian dengan kehadiranku?
Tidakkah kalian dulunya merupakan masyrakat yang cerai-berai penuh dengan konflik, kemudian Allah menjadikan masyarakat yang rukun bersatu dengan kehadiranku?
Tidakkah kalian dulunya merupakan masyarkat yang hidup dalam kenislinan, kemudian Allah menjadikan kalian msyarakat yang makmur berkecukupan dengan kehadiranku? (HR Bukhori)
Pertanyaan tersebut dijawab dengan jujur dan spontan oleh para sahabat “betul ya Rasulullah”.
Pertanyaan-pertanyaan Nabi Muhammad saw tersebut, semacam evaluasi dakwah, yang selama 23 tahun dilakukan, baik itu yang berkaitan dengan masalah keagamaan, seperti dalam ungkapan beliau (tidakkah kalian dulunya sesat, sekarang mendapakan petunjuk dari Allah), juga msalah sosial, beliau mengungkapkan (dan dulunya kalian terpecah belah, sengketa terus, sekarang menjadi rukun) dan masalah ekonomi, seperti tercuat dalam ungkapan beliau (kalian dulunya melarat, sekarang telah menjadi kaya). Ternyata tugas dakwah Nabi bukan hanya mengenai masalah keagamaan saja, tetapi juga kemasyarakatan dan kesejahteraan hidup. Peran ini harus kita warisi.
Ada enam zhulumat yang sekarang banyak dihadapai oleh umat Islam dimana-mana dan menjadi garapan para dai, yaitu lemahnya iman (dha’ful iman), lemahnya ilmu (dha’ful ‘ilmi), lemahnya akhlak (dha’ful akhlaq), lemahnya ekonomi umat (dha’ful iqtishad), lemahnya semangat juang (dha’ful jihad), dan lemahnya kesetiakawanan sesama Islam (dha’ful tamasuk al ijtima’i).
Muhammad Tholhah Hasan, Islam dan Masalah Sumber Daya Manusia, Jakarta: Lantabora Press, 2003, Hal. 217-222

Tinggalkan komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.

1 Komentar