IPTEK DAN PENGARUHNYA TERHADAP NILAI-NILAI KEMANUSIAAN

Manusia dalam dimensi teknik pada masa lau kurang mendapat dari kajian filsafat. Hal demikian dikarenakan beberapa sebab:

Pertama, filsafat lebih dikuasai oleh aliran metafisik, terutama aliran Platonis. Dalam filsafat Yunani, kerja keras dipandang sebagai hal negatif.

Kedua, filsafat lebih merupakan “conceptual engineering” atau rekayasa pemikiran dan kurang merupakan “material engineering” atau rekayasa materi.

Ketiga, adanya pandangan dikhotomis antara teori dan praktek.

Keempat, filsafat antropologi kurang memperhatikan lingkungan. Lingkungan manusia hanya dipandang sebagai panggung dimana drama moral dan religi dipentaskan. Hampir-hampir tidak pernah dipertanyakan apakah dunia itu manusiawi atau tidak.

Pada akhir-akhir ini filsafat memberikan perhatian yang besar dan luas terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Tulisan-tulisan dalam bidang ini dapat dibagi dalam dua kelompok :

Pertama, kelompok yang menekankan nilai-nilai positif dari ilmu pengatahuan dan teknologi. Teknologi dilihat sebagai eksistensi dari manusia, seperti kata Mc Luhan, atau teknologi dianggap sebagai sebagai proses spiritualisasi dari material, atau sebgai proses dimana manusia semakin mendunia.

Kedua, kelompok lain yang lebih menitikberatkan pada kritik dan keprihatinan terhadap ilmu pengetahuan modern dan teknologi. Asumsi ideologisnya adalah kenyataan timbulnya akibat-akibat yang fatal bagi manusia, karena oleh teknologi dan salah penggunaan kecanggihan ilmu pengetahuan, seperti pencemaran, alienasi, hancurnya tata nilai kemanuisaan dan lain sebagainya.

Argumen yang dikemukakan berbeda-beda menurut pandangan dasar masing-masing tentang manusia dan dinamika teknologi sendiri.

Meskipun selalu terdapat adanya hubungan dialektis antara ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi dewasa ini terjadi perubahan tekanan. Pandangan tradisional menganggap ilmu pengetahuan sebagai spekulasi murni, sedangkan teknologi sebagai penerapan dari rumusan-rumusan ilmiah dalam hidup praktis. Pada dewasa ini batas antara kegiatan ilmu pengetahuan dan kegiatan teknik tidak dapat ditegaskan secara tajam, terutama dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan baru, seperti managemen, sosiologi, psikologi, mana yang disebut ilmunya dan mana yang tekniknya?. Untuk menunjukkan kaitan yang erat antara ilmu pengetahuan (science) dan teknologi itu, mak J. Elul menggunakan istikah “technique” yang berarti “keseluruhan dari metoda yang dicapai secara rasional dan memiliki efisiensi mutlak (dalam tahap perkembangan tertentu) dalam setiap kegiatan manusia”.

Peranan ilmu pengetahuan dna teknologi memangnampak begitu besar dan menetukan dalam zaman modern, lebih-lebih bagi negar-negara sedang berkembang yang sedang menjalankan program pembangunannya. Pengaruhnya bukan saja terbatas pada pola pemakaian secara praktis, tetapi secara menyeluruh sampai pada kehidupan sosial budaya. Meskipun demikian perlu disadari, bahwa unsur-unsur yang infrastruktural dalam kehidupan manusia tidak dapat cuma digantikan oleh peranan ilmu pengetahuan dan teknologi saja, masih ada unsur-unsur lain yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia, seperti tata nilai, tata hidup dan sebagainya. Antara unsur yang infrastruktural itu terjadi interaksi yang ikut menentukan kebudayaan manusia.

Ilmu pengatahuan dan teknologi yang sedang berkembang di Indonesia, seperti halnya di negara-negara berkembang lainnya, tumbuh dalam cangkokan budaya. Ini berarti bahwa tata pikir, tata nilai dan tata hidup yang asli tidak dengan sendirinya dapat sejalan dan mendukung terhadap kecenderungan-kecenderungan ilmu pengetahuan dan teknologi modern tersebut. Membanjirnya ilmu pengetahuan dan teknologi dari luar ke dalam pasaran kehidupan masyarakat Indonesia tanpa diimbangi dengan kepribadian yang kuat atau orientasi dan siakp yang utuh (integrated) dalam menghadapi secara baik dan tepat, akan menimbulkan munculnya bentuk dan pola hidup yang “alienated” (terasing) seperti istilah yang dipakai Erich From, seperti kebudayaan etalage, yang tidak mampu menyerap dan mengintegrir ilmu pengetahuan dan teknologi dalam sistem nilai yang dihayati.

Kecenderungan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Harus diakui bahwa ilmu pengethauan dan teknologi merupakan pencapaian tertinggi dalam kebudayaan manusia, dan produk penerapannya dapat memberi banyak manfaat bagi manusia untuk peningkatan kualitas hidupnya dan meringankan beban hidupnya.

Secar historis tonggak-tonggak yang mendorong tumbuhnya ilmu pengetahuan modern dan memacu perkembangannya terlihat dalam :

  1. Renaissance (kebangkitan kembali), yang tumbuh sebagai orientasi baru dalam abad ke-15 dan 16 M merupakan titik balik yang pada dasarnya meletakkan sendi-sendi bangunan ilmu pengetahuan modern. Disitulah terungkap gerakan subyektivitasme yang memberikan kepercayaan manusia pada diri sendiri, kepada kemampuan sendiri, dan harapan untuk mampu mencapai keinginan dan cita-cita dengan kekuatannya sendiri. Suatu optimisme baru yang berorientasi kepada “antorposentrisme” (humanisme), “individiualisme” “natuaralisme”. Pemikir-pemikir seperti Galileo Galilei dan Kepler adalah perintis gerakan tersebut.
  2. Rasionalisme, suatu gerakan yang mempertajam renaissance, yang dialkukan oleh Descrates pada abad ke -17. Descrates maju selangkah dengan thesis bahwa manusia pada hakekatnya adalah “kesadaran”, adalah “subyek”, adalah “aku”. Disinilah kunci bangunan ilmu pengetahuan modern, yakni ilmu pengetahuan harus dimulai dari “rasio” dari kesadaran manusia. Dengan demikian terkuaklah tabir keimanan dan kepercayaan yang menyelubungi alam kehidupan manusia pada zaman itu, menjadi terbuka lebar. Manusia merasa mampu melihat kenyataan dengan mata kepalanya sendiri.
  3. Aufklaring (zaman pencerahan) pada abad ke 18 M. Ratio akhirnya memberikan penerangan, mendatangkan kecerahan dalam natural manusia. Kenyataan bukan sebagai “yang dipercaya” tetapi sebagai “yang dilihat”, “yang dialami” sendiri. Orientasi ini dengan sendirinya mendorong kepada penghargaan terhadap pengalaman, terhadap apa yang ditangkap melalui panca indera. Suatua empirisme yang mendorong laju naluri “ingin tahu” manusia menjadi rangkaian latihan ilmiah secara logis dan sistematis. Atas dasar orientasi empirisme inilah maka para ilmuan berusaha untuk menemukan cara dan metode ilmiah empirik untuk menangkap dan mengungkapkan realitas yang kongkrit. Demikian pada abad ke 19 M menjadi perubahan-perubahan besar dalam alam pikiran masyarakat, yang terungkap baik dalam kemajuan ilmu pengetahuan maupun teknologi, yang mengantar lahirnya abad industri.

Sejalan dengan proses dasar-dasar pertumbuhan ilmu pengetahuan tersebut, terjadilah dua peristiwa budaya, yakni terjadi proses sekularisme dan fragmentasi. Sekularisme adalah istilah yang sekarang banyak dibicarakan, tetapi relaitasnya sudah berlangsung sejak beberapa abad yang lampau. Pada hakikatnya sekularisme menginginkan adanya perbedaan tajam antara agama dan ilmu pengetahuan, dan memandang ilmu pengetahuan itu otonom dalam dirinya. Mistilah sekularisme menunjukkan pengertian pemindahan sesuatu dari lingkungan sakral ke dalam lingkungan dunia. In concreto pada zaman itu sekularisme merupakan usaha-usaha pembebasan diri dari yurisdiksi agama. Hal ini dapat dimaklumi karena sering terjadi wewenang keagamaan terlalu jauh mencampuri keduniawian. Dalam sekularisme juga terkandung keinginan emansipatoris manusia menuju kepada pembebasan dari tekanan-tekanan luar. Dengan demikian dalam sekularisasi ini terbaca adanya kesadaran akan demensi baru, yaitu otonomi manusia, dimana manusia akan dapat mengembangkan bakat dan kemampuannya secara otentik dan rasional.

Fragmentasi, merupakan gejala baru pada pada zaman itu bersamaan dengan tumbuhnya ilmu pengetahuan empiris. Obyek ilmu pengetahuan ialah gejala penginderaan yang merupakan data individual. Dan sesuai dengan sifat data individual itu maka pendekatan ilmiah yang dilakukan ialah memisahkan jenis data tertentu dari jenis data lainnya ke dalam masing-masing kelompok. Pada dasarnya, kata E. Cassirer, bahwa ilmu pengetahuan empiris itu bersifat fragmentaris sehingga memberikan pandangan fragmentaris pula. Adanya diferensiasi dan spesialisasi yang terjadi dalam ilmu-ilmu pengetahuan empiris lebih  mendukung fragmentaris pandangan dan wawasan, sehingga sulit diperoleh pandangan yang integral dan konprehensif. Fragmentasi ini dapat membawa orang hidup dalam dunianya masing-masing, terpanjang dalam keahliannya, dan lebih ekstrim lagi menjadi tertutup dan sulit berkomunikasi dengan dunia luar.

Dalam iklim dan pola pemikiran  tersebut di atas, maka muncullah sebagai kelanjutannya beberapa orientasi yang dapat kita ikuti sejak abad ke-19 M, yang berupa :

  1. Sekularisme.

Orientasi ini bukan lagi sebagai sikap emansipatoris dan otonomi manusia, tetapi sudah melihat dunia sebagai satu-satunya kenyataan yang mandiri. Orientasi ini secara bertahap disertai dengan sikap yang menolak campur tangan Tuhan dalam perilaku manusia, seperti terlihat dalam orientasi “Deisme” di Inggris pada abad ke-19 M. yang pada akhirnya ditentukan oleh sikap radikal yang menolak eksistensi Tuhan itu sendiri sebagai kenyataan absolut. Maka sekularisme berkembang menjadi atheisme. Bentuk-bentuk atheisme dapat terwujud dengan ungkapan-ungkapan seperti :

-          Manusia sebagai tujuan dirinya sendiri. (Marx)

-          Manusia sebagai kebebasan mutlak (Sartre)

-          Tuhan sudah mati (Nietzsche)

Dengan potensinya intrinsik dan natural, manusia merasa mampu untuk berbuat segalanya dan siap menjadi penguasa tunggal di dunia. Dimensi religius sebagai ciri hakiki manusia diingkari secara radikal.

  1. Scientisme

Yang menyatakan kebenaran adalah ditangan science (ilmu pengetahuan). Tidak ada kebenaran kecuali kebenaran ilmiah. Orientasi ini merupakan pendewaan terhadap ilmu pengetahuan, yang pada akhirnya berkembang menjadi suatu ideologi, karena beroretensi mampu mengubah dunia dengan suatu arah, arti dan nilai baru dalam kehidupan manusia ini. Kebahagiaan manusia harus dicari melalui proses kegiatan ilmiah dan hukum-hukum yang berlaku dalam ilmu pengetahuan, yang kemudian dianggap telah berhasil mengungkapkan penemuan-penemuan baru yang serba menakjubkan.

  1. pragmatisme

pandangan ini melihat bahwa dengan kemajuan ilmu pengetahuan, segala sesuatu menjadi relatif, termasuk manusia. Manusia yang zaman renaisanse dijadikan unggulan utama, sekarang tidak lagi dilihat sebagai ukuran. Dan kehidupan, bukan manusia sebagai wujud yang menentukan, tetapi kegunaan dan fungsinya. Sesuatu hanya akan bernilai sejauh ia memberikan kegunaan atau kemanfaatan dan berfungsi bagi kehidupan manusia. Dari pandangan ini jelaslah bahwa nilai-nilai menjadi relatif dan orientasi orang terarah pada hal-hal utiliter (ada kegunaannya), dan dengan demikian sudah mengarah pada materialisme.

 

Eksistensi ilmu pengetahuan dan perkembangannya yang pesat melahirkan hasil yang mengagumkan dalam wujud teknologi, merupakan raksasa yang kuat dan kuasa. Begitu besarnya pengaruh teknologi sehingga ia bukan saja merupakan sarana kehidupan manusia, tetapi sudah berubah menjadi tujuan hidup manusia.

 

Teknologi mula-mula merupakan sumberdaya atau  resource untuk menciptakan kekayaan melaui produksdi dan produktifi yang lebih besar. Produksi ini pada mulanya terbatas pada produksi material, merupakan tindakan manusia terhadap alam dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya,. Sasarannya ialah mengubah obyek dalam keadaan alamiahnya kedalam kondisi yang dapat mencukupi kebutuhan manusia. Bertambahnya pengetahuan dan pengalaman manusia dalam menghadapi alam memperluas penggunaan alat-alat kerja dan teknologi. Cara produksi diperbaiki, diperluas dan dirasionalisasikan. Perkembangan kekuatan produksi menjurus kepada akumulasi dan konsentrasi modal dan pengetahuan. Hal ini terutama terjadi dalam teknologi yang padat modal (capital intensive) padat penelitian (research intensive) dan padat organisasi (organization intensive). Produksi akhirnya tidak hanya meliputi produksi material, tetapi juga prtoduksi sosial, yaitu terciptanya hubungan-hubungan sosial dalam produksi. Hubungan-hubungan sosial berintegrasi dengan produksi material dan mewujudkan sistem produksi.

Salah satu ciri teknologi modern ialah kecenderungannya untuk menjadi otonom. Sejak awal revolusi industri pemikir-pemikir sosial seperti Comte, Marx, juga Freud telah menyinggung masalah otonomi teknologi. L. Winner yang mengembangkan pemikiran J. Ellul menunjukkan bahwa tekonologi berkecenderungan untuk lepas dari pengendalian manusia dalam dua arah, yaitu:

  1. Teknologi menciptakan kebutuhan-kebutuhan yang hanya dapat dipuaskan oleh teknologi sendiri.
  2. Teknologi mengubah masyarakat, kepercayaan, adat-istiadat dan organisasinya, sehingga dapat disesuaikan dengan tuntutan dan teknologi.

Kedua hal ini oleh Winner disebut dengan istilah “the technological imperative” (keharusan teknologi) dan “reverse adaptatif” (adaptasi berbalik).

Sedikit ungkapan di atas dapat memberikan isyarat, bahwa teknologi bukan saja mempengaruhi proses pertumbuhan sosial budaya, tetapi malah menciptakan kebudayaan baru, seperti istilah Herbert Marcuse, salah seorang yang sangat mencemaskan perkembangan teknologi yang tidak terkendali. Begitu besarnya pengaruh teknologi, sehingga bukan saja merupakan sarana kehidupan manusia, tetapi sudah berubah menjadi penguasa manusia, menjadi tujuan hidupnya. Akibatnya ialah teknologi memisahkan manusia dari tujuan karyanya dan dengan demikian menimbulkan alienasi terhadap masyarakat dimana dia hidup, teknologi menjadi tidak compatible (tidak rukun dan harmonis) dengan nilai-nilai ke4manusiaan.

Pengaruh Iptek terhadap Nilai-Nilai Sosial dan Kemanusiaan

Sistem industri yang menyatu dengan ilmu pengetahuan dan teknologi sudah menjalani suatu lompatan yang mutatif, bila dibandingkan dengan  industri rumah tangga atau industri desa tradisional. Bila orang-orang Yunani dan Arab dulu bermatematika dan berdiskusi ilmiah tentang gejala-gejala alam, hukum-hukumnya dan rahasianya interaksinya, demikian juga orang-orang Cina meledakkan mesiu dan kembang-apinya, mereka melakukkannya demi kecintaannya kepada pengetahuan murni, dermikian kebahagiaan hati yang melonjak karena merasa suatu rahasia alam yang terungkapkan. Tapi dunia Barat sesudah abad-abad pertengahan, dengan rasionalisme dan sustu ideologi tertentu yang tidak datang dari kepercayaan nenek moyang atau ajaran agamanya, tetapi dari suatu khas yakni segugus unsur kualitatif yang baru, yakni prinsip pemanfaatan, lalu tumbuh menjadi manipulasi dan eksploitasi berkat berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi baru. Mesiu dipakai untuk meriam-meriam perang dan astronomi digunakan untuk mencari jalan perdagangan melintasi Tanjung Harapan ke kepulauan rempah-rempah. Hukum-hukum alam dan pengetahuan murni diubah menjadi pengetahuan terapan, menjadi teknologi, dioperasionalkan menjadi industri, dan dilindungi oleh suatu sistem politik dan kekuatan militer tertentu, dan demi pemasarannya yang struktural harus dimanfaatkan, menjadi manipulasi dan eksploitasi sekuruh dunia.

Kehidupan manusia yang digambarkan menjadi cerah dalam zaman Aufklarung dengan variasi orientasi dan inspirasinya, kini secara totaliter dan represif diarahkan kepada suatu tujuan, yakni kelestarian dan kejayaan kapitalisme modern. Dimensi-dimensi lain ditekan karena tidak sesuai dengan tujuan utama tersebut. Hal ini dapat dilaksanakan dengan lancar, karena teknologi modern mampu memberikan kepuasan semu kepada kebutuhan-kebutuhan masyarakat, dengan memasukkan motivasi serta pengaturan yang tampaknya rasional. Dalam situasi demikian itulah maka manusia bersikap pasif dan reseptif dan tidak mampu lagi menuntut perubahan.

Dalam kehidupan yang serba teknologi ini, manusia dapat mengalami alienasi, manusia tidak lagi hidup secara langsung bebas dengan lingkunagnnya, tetapi secara berangsur-angsur hidup dikelilingi oleh teknologi, organisasi dan sistem yang diciptakan sendiri. Memang berkat ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia dapat bangkit dari tekanan berat alam yang selalu mengganggunya, akan tetapi secara sistematis mulai tergantung pada hasil ciptaannya dan organisasinya. Dominasi alam dapat dilepaskan, tetapi teknologi dan birokrasinya bangkit dengan dominasi dan kekuatannya yang dahsyat menguasai dan menjadikannya tergantung dan lemah, kata Jurgen Moltmann.

-          Dia berbusana, karena melaksanakan perintah industri mode.

-          Di abepergian jauh, karena ditransportasi jaringan bisnis.

-          Dia giat bekerja, karena harus menjadi mata rantai sistem produksi.

-          Seniman melukis, bukan semata mencuatnya rasa estetika dalam jiwanya, tetapi karena kurs komersial.

-          Diplomasi bukan lagi seni negarawan, tetapi karena kesimpulan analisa rahasia inteligence agencies.

-          Perang bukan lagi duel ksatria lawan ksatria, tetapi perlombaan spesialis antara laboratorium satu dengan yang lain.

-          Sarjana tidak lagi meneliti karena cintanya pada ilmu pengetahuan dan kebenaran yang diyakini, tetapi karena kesimpulan studi yang sudah dipesan.

Dalam menghadapi situasi demikian itulah orang mulai sadar dengan datangnya krisisi kehidupan dewasa ini, dalam arti struktur kehidupan sosial tidak mampu lagi memberikan pemecahan yang diharapkan, untuk menjamin kelestarian sistem kehidupan itu sendiri.

Bagi Indonesia, tantangan ini bukan saja terbatas pada bagaimana menghindari kecenderungan-kecenderungan dasar perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut di atas yang telah dirasakan oleh masyarakat Barat, melainkan juga bagaimana membentuk struktur sosial budaya yang mampu menghadapinya. Hal ini bukan hanya menjadi tanggung jawab ideologi dan strategi pembangunan nasional, tetapi juga tugas agama dan budaya secara institusional.

QS Al Anfal:53

Muhammad Tholhah Hasan, Islam dan Masalah Sumber Daya Manusia, Jakarta: Lantabora Press, 2003,  Hal. 139-151

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: